Langsung ke konten utama

Review hotel di Bandung: Jalan kaki ke Cihampelas Walk nggak sampai 10 menit

Traveling ke Bandung, 10-13 Oktober kemarin kukira bakal sendirian. Dari Jogja dan selama di sana. Makanya, aku riset betul-betul untuk menemukan hotel yang bersih, aman, nyaman, lokasi strategis karena siapa tahu aku ke mana-mana dekat naik ojek online. 

Susah-susah gampang dapet hotel di Bandung dengan budget ngepas. 

Tiap aku survei di Trav***ka, T*k*t, dan A**da, pasti yang aku fokus selain lokasi adalah review rating terendah, dari yang angka tahun lama maupun terbaru. Review yang bikin aku males memilih hotel biasanya soal (ini aku urutkan dari yang bikin aku berat memilih sampai yang bisa aku toleransi):

1. Kamar mandi kotor, shower atau air kran kecil bahkan ada yang mampet. Showernya yang panas nggak fungsi--awalnya aku nggak masalah ya ini, tapi nyampe Bandung memang sangat menolong sekali shower air panas/angetnya untuk meredam dingin (baik AC maupun cuaca)

2. Kamar engap, agak horor, ditaruh di pojokan, bla bla bla

3. Jalan sepi, penjaganya jutek, berisik, parkir sempit, penjagaan parkir kendaraan nggak optimal

Belum lagi mau tipe hotel seperti apa, hotel sekalian apa penginapan under R*dd**rz atau *Y*. Model hotel modern atau lama. Dan banyak banget pertimbanganku. Plus mau disesuaikan dengan kantongku juga. Hahaha.

Rewel? Iya. Soalnya (kirain) sendirian itu jadi bener-bener pengen aman dan nyaman. Itulah kenapa aku gagal ke Bandung pertengahan September 2024 lalu, selain karena long weekend Maulid Nabi Senin tanggal 16 yang susah dapet hotel oke. Sebenarnya kalau aku kaya raya juga nggak mikir seruwet ini, ya... tinggal cari hotel yang mahal dan bagus. Hahaha. Semoga suatu hari bisa, yaaa. Aamiin. 

Nah, pas kesempatan Oktober ini, aku bingung lagi. Tiap pagi dan jelang tidur tuh aku sempetin survei hotel. Nemu nih yang lagi viral dan bagus. Jatuhnya guest house. Review di Google 4,5 bintang dari 84 ulasan (per 20 Oktober 2024). Itungannya bangunan baru, tidak ada lift, direview estetik dan nyaman di  T*kT*k. Namanya L di daerah Pasteur, Sukajadi. Aku sreg nih dari segi fasilitas, lokasi, dan harga. Mana harga 4 hari 3 malam sekitar Rp1 jutaan lebih dikit, udah dapat breakfast. "Lumayan banget, nih," pikirku. 

Tapi ...

Yang bikin aku kecewa dan kesel dari L ini adalah saat aku coba hubungi nomor properti yang tertera di email/pdf yang aku terima (aku pesan via A**d*), hari pertama nggak diangkat. Berulang aku telp nggak diangkat. Hari kedua percobaan pertama telp, nggak diangkat. Panggilan kedua baru diangkat, dan sahutannya (pria yang angkat) terdengar males-malesan dan jengkel. Asumsiku ya karena aku telp mulu kali ya (?). Sebenarnya aku cuma mau konfirmasi pesanan kamarku udah masuk belum. Kan khawatir kayak cerita-cerita apes di medsos, udah pesen di platform pemesanan tiket tapi ternyata nggak masuk catatan hotelnya. 

Nah, dari percakapan singkat itu, ternyata dia bukan resepsionis penginapan L. 

"WA aja, Mbak, nanti saya kasih nomor resepsionis yang in charge," katanya dengan datar dan nggak ada sama sekali smiling voicenya. Dari sini udah KESEL BANGET! 

Mungkin ini juga ketidaktahuanku ya, kukira kontak properti itu sama dengan resepsionis. Mana itu kontak satu-satunya yang tertera di bukti booking. Tapi saat aku search pun di Google, dan dapat nomor telp rumah untuk penginapan L ini (ini sebelum akhirnya telp-ku diangkat di nomor kontak properti itu), lalu aku telp, nggak diangkat juga. 

"Nih tempat review bagus di TT, tapi kontaknya susah banget dihubungin!" dumelku.

Balik ke nomor resepsionis, akhirnya dapet tuh. Itu balesnya juga LAMA BANGET di WA!


Dahlah, sebelum resepsionis bales, aku langsung cancel pemesanan. Feelingku nggak enak. Masa siang chat, sore baru bales?! Semacam profesionalitasnya nggak oke. Setelah proses cancel, nggak ada hitungan jam, duitku balik utuh. Alhamdulillah. 

Sembari itu, aku cari-cari lagi hotel lain. Iya, hotel aja, jelas, bukan guest house-guest housean. Dengan pemikiran (awamku yang cetek soal penginapan) bahwa kalau hotel beneran pasti bener sistem dan pelayanan serta fasilitasnya. Meski juga banyak yang nggak sempurna, tapi jelas gitu lho, sistem dan pelayanannya. Sampai akhirnya nemu app C*ve yang dia jualin kost ekslusif sekaligus hotel gitu. Nah, West Inn Cihampelas ini masuk di sana. Tapi aku kemarin tetep pesen di platform T*k*t.com. 

Review West Inn Hotel

Bisa dibilang 80-90% aku sreg pilih West Inn Hotel. Apalagi lokasinya strategis deket Cihampelas Walk (Ciwalk) dan ini bagian utara. Jadi kalau aku mau main ke arah Lembang dskt, cukup deket ketimbang aku nginep di Bandung sisi selatan. 

Yup, akhirnya aku pesen di sini dengan view jalan Cihampelas. Dan, aku nggak sendirian, karena teman yang aku ajak meet up ternyata bisa nemenin menginap selama 3 malam. Yeay! :)

Kamar yang aku pesan (Kamar Superior Queen) ini memang posisi di muka hotel, lantai 4. Dengan jendela besar, bisa lihat jalanan Cihampelas termasuk Teras Cihampelas yang sekarang terbengkalai (?). Fasilitasnya tuh ada air minum botolan, tapi selama nginap di sana 3 malam, nggak 'direfill' botolnya/nggak dikasih lagi. Adanya refill air galon di dekat lift. Emang gitu, ya? Ah, mbuh... ini pun aku baru ngeh setelah diremind temen harusnya aku punya hak dikasih lagi air minum botolnya di kamar. Tapi ya sudahlah, mau ngarep apa sih dari hotel yang ternyata kamarnya nggak seluas seperti di foto platform? Hahaha. Atau mungkin kamarku bukan yang dimasukkan ke platform. Tipenya aja sama. Oh iya, catatan, nggak ada fasilitas sarapan, ya. 

Foto di platform

Foto di platform

Foto kameraku

Foto kameraku

Minusnya lagi menginap di West Inn Hotel? Tapi ini bukan salah hotelnya, ya, melainkan memang konsekuensi yang harus aku tanggung karena memilih view jalan, yaitu kalau tengah malam atau dini hari jam-jam 2 atau 3 itu di jalanan Cihampelas kayak ada ajang pemuda-pemuda balapan atau main-main motor dengan knalpot brong. BERISSIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIK. Jadi susah tidur. :(

Konsekuensi lain menginap di West Inn Hotel yang jendelanya gede dan sepertinya kacanya transparan, harus waspada aja. Jangan buka gorden yang tebel lebar-lebar kalau nggak mau jadi tontonan layaknya akuarium raksasa oleh orang-orang di luar hotel. :)

Oh, iya.. harusnya kamar yang aku pesan di West Inn Hotel ini tuh no smoking. Tapi ketika masuk kamar dan kamar mandi di awal-awal, ada residu-residu bau rokok. Mungkin bukan salah hotelnya. Mungkin salah orang yang nginap sebelum aku. Atau kemungkinan-kemungkinan yang lain. Tapi so far aman, sih. 

Kelebihannya menginap di West Inn Hotel? Banyak!

1. Resepsionis ramah dan helpfull. Kemarin juga sempet titip tas bentar buat cari oleh-oleh pagi-pagi, bisa banget. Nggak kena charge juga. Kan ada tuh penginepan yang susah banget mau dititipin barang sebentar dari kita yang nginep di situ. Kejadian dulu di R*dd**rz Dipatiukur. Ada yang mau nitip koper bentar karena mau ke ITB, tapi susah banget. Cenderung resepsionis nggak mau (atau nggak boleh?). Aturan detailnya aku kurang paham, tapi pelajaran banget untuk kita tanya ke resepsionis boleh nggak nitip bentar, dan kita juga harus paham konsekuensinya andaikata bisa. 

2. Ada lift jadi nggak usah capek-capek juga naik-turun tangga (tapi ada tangga juga, jadi balik ke pilihan). Cuma, liftnya memang nggak lebar/luas, sih. Paling muat 3-4 orang dewasa. Kalau bawa carrier kayak aku, ya sesek.

3. Ada tempat parkir di lantai dasar, posisi agak belakang untuk motor. Mobil bisa di situ juga atau kalau penuh di depan hotel. Tukang parkirnya helpfull dan gercep mengarahkan ke mana arah mau parkir maupun bantuin ngeluarin motor dari sesaknya parkiran. Kayaknya ada toilet dan mushola juga di area parkir. CMIIW. 




4. Kamar mandi cukupan bersihnya meski ada mold di beberapa spot kayak sela-sela nat keramik, dll. Tapi overall oke, nggak apek. Air panas shower berfungsi cukup baik. Kipas angin atau exhaust fan kamar mandi berfungsi baik. Kamar mandi ada jendela kaca sehingga penerangan oke banget ketika siang hari. Tersedia sampo, sabun mandi cair, dan 2 buah sikat gigi tapi pasta giginya cuman 1 (aku pesannya 1 kamar 2 tamu, ya). Ada 2 handuk dan 1 keset. Pancuran air shower, bidet, dan wastafel? Aman dan nyaman. Tenang ~



5. Mau cari makan gampang banget. Mepet hotel ada kedai makanan, lalu toko oleh-oleh (buka jam 8 pagi rata-rata toko di sana, yang pagi banget sebelum jam 8 tuh ada 1 di deretan Fave Hotel jalan ke arah Ciwalk), dan setelahnya toko oleh-oleh ada minimarket Indo*****. 

6. Ke Ciwalk jalan kaki tuh nggak sampai 10 menit kita sampai, kok. Tapi ya memang trotoarnya nggak cukup ramah pejalan kaki. Banyak pedagang kaki lima seperti penjual peyeum, aksesori, mobil parkir dll.


7. Keluar parkiran langsung jalan raya, ini jadi kelebihan karena seakan memperpendek jarak tempuh ke mana-mana. Hahaha


Well, itulah yang aku rasakan selama menginap 4 hari 3 malam di West Inn Cihampelas. Kalau mau kasih rate ya 8/10 kali, ya. Mau nginep di West Inn Hotel lagi? Boleh, dengan view yang lain/kamar lain aja kali ya, biar nggak mepet jalan raya yang berisik. Padahal  aslinya Jalan Cihampelas kalau udah jam 22.00 tuh jalanan sepi. Oknum-oknum pemuda tadi itulah yang ganggu banget. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...