Langsung ke konten utama

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix


Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan. 

Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan.

Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang.

Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplungin ke negara yang sepertinya jauh lebih asing bila dibandingkan Singapura atau Malaysia. Secara budaya, bahasa, itu pasti jauh sekali dengan Indonesia. Sementara kemampuan bahasa Inggris saya begitu payah.

Kemudian Pak Bos menginfokan ada undangan rumah produksi film untuk pergi ke Vietnam. Long story short, terlewatkan pula kesempatan ini. Belakangan saya tahu, sepertinya itu film Upi Avianto, My Stupid Boss 2

Tapi ya gitu ya hidup... kesempatan satu lewat, kesempatan lain datang lagi. Buat saya, nonton F1 itu REZEKI BANGET! Setelah lewat kesempatan emas, saya mendapatkan kesempatan dua kali lipat emas! Imho, ya. Hehehe. Walaupun aslinya saya nggak ngeh dan nggak pernah ngikutin F1.

Justru yang saya pikirkan pertama kali saat Pak Bos bilang ada undangan nonton F1 di WhatsApp tuh, Valentino Rossi dong. Kan dong dong banget, yak. Soalnya beberapa hari sebelumnya mengerjakan artikel Y*m*h* dan Rossi. Sampai akhirnya saya teringat dan tepuk jidat, itu kan Moto GP, bukan F1. 

Akhirnya sempet search pembalap F1. Asing! Cuma nama Lewis Hamilton yang nggak begitu asing, secara dia yang sering jadi jawara ya.. jadi kalau nggak sengaja mampir ke laman berita olahraga, namanya terpampang jelas.

Kesempatan nonton F1 ini mulanya akan diambil rekan kerja yang stay di Jakarta. Namun Pak Bos mengatakan bahwa awak di Jogja yang akan berangkat. Sekian menit tak ada editor lain yang menyahut, saya memberanikan mengajukan diri setelah meminta pendapat pada adik-adik dan ibu saya di grup WhatsApp keluarga.

"Saya boleh, Pak?" balas saya di grup WhatsApp.

Nggak butuh waktu lama Pak Bos yang mejanya berada di depan saya persis, menimpali secara langsung, "Kamu belum, Tin?". Beliau memastikan bahwa saya memang belum pernah liputan ke luar negeri. Beliau juga teringat undangan ke Vietnam yang terlewat.

Singkat cerita sayalah yang akan berangkat ke Singapura untuk menyaksikan driver F1 beraksi di seri ke-15 Grand Prix musim 2018.

Namun sejak ketuk palu siapa yang berangkat itulah, genderang cemas dan panik saya bertabuh riuh otomatis. Selama seminggu jelang keberangkatan, saya psikosomatis. Mules, deg-degan mulu, leher agak-agak tercekat dikit, resah, setiap kali memikirkan bagaimana nanti di Singapura. Lebih-lebih saat dibilang pihak pengundang melalui perwakilannya, saya akan terbang langsung dari Jogja ke Singapura, sementara rombongan dari Jakarta ya langsung dari sana.

Apa yang saya khawatirkan?

Bahasa Inggris saya. Random check. 😂

Namun semua itu perlahan sirna saat saya sudah di Bandara Adisutjipto, Yogyaaduduk menunggu pintu ruang keberangkatan internasional di Terminal B dibuka. Saya lebih merasa bisa kalem saat mayoritas dalam penerbangan itu adalah orang-orang Indonesia. Kebetulan waktu itu ada rombongan study tour Fakultas Peternakan UGM ke Singapura dan Malaysia.

Sesampainya di Changi, saya berusaha tenang dan itu berhasil. Nggak ada tuh rasa dag-dig-dug kayak genderang mau pecah. Namun sempat syok aja pakai toilet di Bandara Changi nggak ada semprotan cebok. Untuk kali pertama saya mengalaminya. Hahaha. Alarm obsesif kompulsif saya beraksi, dong.😓

Saya memang 'bermasalah' dengan najis dan toilet sebangsanya. Namun saya bilang sama diri sendiri, ini cuman 4 hari 3 malem. Seperti kata Aamir Khan di film fenomenalnya 3 Idiots, All is Well.

Saat melewati imigrasi Terminal 4, kok ya beruntung banget lancar. Petugasnya juga orang (yang bisa bahasa Melayu), parasnya agak-agak India gitu. Cuma ditanya ulang nama lalu suruh scan kedua jempol, selebihnya loloslah saya. Ah, ternyata ketakutan selama ini hanyalah konstruksi keliru pikiran saya saja.

Sekian menit menunggu jemputan guide, Pak Augustar, yang ternyata telah menjemput rombongan Jakarta (1 perwakilan PR Singapore Board Tourism/STB/Badan Pariwisata Singapura, 1 jurnalis dari media tetangga, dan 2 orang artis Christian Sugiono beserta istri Titi Kamal yang menjadi Key Opinion Leader/KOL STB), akhirnya saya bergabung dengan mereka semua.

Pertama tahu Mas Tian, panggilan Christian Sugiono, biasa aja. Mungkin beda ya rasanya kalau itu Chef Juna. Hahaha! Dan beliau nggak say hi juga pas saya masuk mobil. Namun ketika kami mampir ke Wildseed Cafe and Bar buat makan siang, Mas Tian nyapa duluan dan memperkenalkan diri.

"Dari Brilio, ya? Siapa namanya?" kurang lebih demikian ucapan Mas Tian saat kami dan yang lain berjalan menuju pintu masuk tempat makan.

Ketika saya menyebutkan nama saya, Mas Tian bercanda, "Wah, Agustin, Augustar."

Dilanjut juga beberapa waktu berikutnya setelah kami selesai makan siang, Mbak Dian, PR tadi, bertanya enaknya saya dipanggil apa? Agustin kepanjangan. Dipanggil Titin, nanti samar-samar manggil Tian sama Titi. Dipanggil Gus nanti keliru juga sama Pak Augustar. Hahaha.

Saat makan di Wildseed Cafe and Bar ini, saya bingung sama menunya. Sepenglihatan saya dari buku menu, nggak ada nasi dong. Mana namanya aneh-aneh. Saya hanya mengamati kalau nggak ada tulisan 'pork' ya is okay. Hehehe.

Akhirnya bergaya makan Thai noodle salad gitulah. Mi putih yang semacam mi suun di bakso-bakso itu, dicampur potongan ayam, dan salad sayur. Rasanya? Saya cuma makan ayam sama mi. Itu pun mi-nya nggak sepenuhnya habis. Bisa mengartikan gimana lidah saya menerima menu itu? Hehehe.    

Ilustrasi Thai noodle salad/foto: taste.com.au
Di otak saya, "Apakah selama 4 hari ke depan saya nggak akan menemukan nasi di sini?" Melas banget, ya? Hahaha. Nggak kok, saya tetap makan nasi. Soalnya hari-hari berikutnya diajak ke restoran (baik yang standar Michelin Guide maupun murah meriah) sama Pak Augustar.

Hari kedua saat makan siang di The Blue Ginger (restoran yang terlibat dalam Gastromonth 2018 dan telah masuk standar Michelin Guide), saya makan nasi ditambah lauk pauk yang masih masuk di lidah, seperti rendang, ayam buah kluwak, udang, dan lain-lain. 

Menu pembuka di The Blue Ginger/foto: dok. pribadi

Menu utama The Blue Ginger/foto: dok. pribadi
Menu penutup The Blue Ginger, campuran es krim, pisang, dan jenang berwarna cokelat semacam di jenang gempol. Rasanya familiar kayak jenang-jenang di pasar Indonesia/foto: dok. pribadi


The Blue Ginger ini menyediakan menu peranakan, percampuran China sama Melayu. Yang paling berkesan menu ayam buah kluwak. Kluwaknya utuh, dan isinya dimakan bersama nasi. 

Rasanya? Dibilang asem, nggak seasem belimbing wuluh maupun mangga, tapi emang bikin 'kaget' sih karena biasanya kan sudah dicampur di kuah rawon. 

Christian Sugiono saat menikmati menu utama The Blue Ginger/foto: dok. pribadi

 Ruangan lantai 1 The Blue Ginger/foto: dok. pribadi

Tampilan depan restoran The Blue Ginger/foto: dok. pribadi
Meminjam istilah Mbak Dian, over limit

Ketika membaca itinerary undangan nonton F1, saya langsung membayangkan kemewahan, keglamoran, dan dunia malam yang selama ini hanya saya lihat lewat TV, film, maupun baca di media. Bukannya takut, saya malah penasaran. Sebab, suatu ketika dulu, saya membayangkan, apa jadinya orang berjilbab masuk bar/pub/club? Saya juga pernah mempertanyakan itu pada senior saya di kantor ketika menghadiri acara-acara di tempat-tempat tersebut. Pikir saya pada akhirnya, apa pun yang terjadi, terjadilah.

Menjalani rangkaian acara nonton F1 kemarin, secara sadar penuh, saya mengambil tantangan itu. Saya nggak pakai alasan bahwa ini tuntutan pekerjaan, karena saya sudah memilih berangkat, dapat ACC, lantas ketika di sana pun saya punya pilihan untuk mundur (nongkrong aja di luar tanpa perlu masuk ke dalam) karena sayang kan, udah dibayarin pengundang menikmati semua fasilitas enak, eh malah mau balik sendiri. Hehehe. Nggak, tapi saya sudah menyiapkan mental untuk beberapa situasi yang nggak familiar buat saya (kecuali semprotan cebok di toilet2 Singapura ya! 😅).

1. Makanan dan minuman nggak halal.

Pertama di Wildseed Cafe and Bar. Di sana ada menu pork, dan saya nggak tahu alat masaknya itu campur atau udah kesentuh babi beserta lemaknya atau nggak. Wallahu a'lam, selama saya nggak tahu, dan udah kepepet diajak makan di situ, ya udah dong. 

Namun halal apa nggak di sini nggak jadi pusing buat saya. Kekhawatiran saya ya tadi itu, malah saya mikir apa selama di Singapura saya bakal makan makanan aneh-aneh semacam salad-salad, steak-steak, dan olahan-olahan, bukan nasi? 😅

Kemudian saat malam networking di Sky Suit (hari pertama, Jumat 14/9) bersama para tamu yang diundang STB (konon terdiri dari awak media, vlogger, blogger, influencer dari berbagai negara), udah langsung disambut sama gelas-gelas cocktail yang siap diisi dengan minuman beralkohol, plus DJ yang siap menemani para tamu. Terus ketika makan malam di situ, saya kudu baca menu-menunya yang tertulis di depan wadah menu itu tersaji, lebih jeli--walau akhirnya sekena dan sepaham aja yang saya ambil.

Ujung-ujungnya saya makan ayam karena paling cepet maksudnya ditangkep sama otak. 😄 Menu lain beef apalah apalah, pork sepertinya juga ada, dan nama-nama aneh lainnya. Saya bakal menyebut rasa menu yang saya ambil itu mirip-mirip ayam kecap lah. 

Oke, daging ayam itu menemani olahan lebih berat. Saya nggak tahu apa, bukan pizza juga, martabak asin bukan, intinya mirip-miriplah. Nggak ada nasi, seinget saya.

Makan malam saya di Sky Suit/foto: dok. pribadi


Nah, selama di Sky Suit inilah saya menjadi perhatian, terutama pelayan. Mereka memastikan kalau saya mau makan makanan halal bisa, lho. Saya juga minumnya cuma infused water, dong. Alhamdulillah ada, menggantikan air mineral. Bahahaha!

View di rooftop Sky Suit/foto: dok. pribadi

Para tamu di Sky Suit bisa melihat langsung belokan pertama mobil F1/foto: dok. pribadi

Saya paling ingat ada pelayan cewek berwajah India dan seorang pria tua berwajah oriental yang perhatian sama saya (cieee...). Mbak-mbaknya itu yang menginfokan saya bisa makan makanan halal. Yang paling saya ingat waktu itu dia memberita tahu, menu dessert dan halal udah tersaji. Kalau mau makan silakan. Lantas saat bercanda sama Mbak Dian, pria tua tadi tampak memperhatikan saya. Saya nangkep beliau melihat saya. Nggak selang lama, ketika saya ditinggal Mbak Dian, Mbak Santi (editor dari media tetangga), dan Mas Tian ke teras Sky Suit, pria tua itu menghampiri saya dan berbicara dalam bahasa Inggris.


Di tengah suasana ruangan Sky Suit yang riuh dengan musik EDM dan obrolan orang-orang, plus keterbatasan saya soal listening (dan speaking), saya mencoba mengerti kata-katanya. Saya sempat nggak ngeh dengan kata (yang tertangkap telinga saya) 'ala food', ternyata maksud beliau 'halal food'.

Saya langsung nangkep bahwa beliau memastikan saya makan makanan halal. Saya cuma nyahut yang intinya saya baik-baik saja, bahkan tadi sempat bertanya ke chef soal makanan halal. Beliau juga menyampaikan bahwa mohon maklum kalau ada makanan dan minuman nggak halal di acara seperti itu.

Kalau boleh bertemu kembali dengan kedua orang itu, saya akan bilang terima kasih sudah mencoba membantu saya. Doa saya, semoga mereka selalu sehat, lancar rezeki, dan panjang umur.

Pelajaran aja sih, saya merasakan bagaimana menjadi minoritas. Beruntungnya ada yang perhatian soal makanan/minuman halal bagi Muslim. 

2. Main ke Casino.

Wah, kalau ini sih nggak masuk itinerary. Namun memang kehendak pribadi yang kebetulan diajakin Mbak Dian dan Mbak Santi yang pengen lihat casino di Marina Bay Sands (MBS) mall waktu kami mau menyeberangi Sungai Singapura dari mall ke kawasan Sky Suit. 

Kenapa harus nyebrang? Soalnya banyak akses jalan di Sirkuit Marina Bay ditutup buat perhelatan F1. Jadi, jalur terdekat ya nyebrang sungai. Pelabuhannya ada di dekat bangunan ikonik Singapura yang mirip telapak tangan membentuk mangkuk menghadap ke atas, Artscience Museum.

Pemandangan pelabuhan kapal ferry di dekat Artscience Museum pada malam hari/foto: dok. pribadi
Nah, ternyata untuk masuk ke casino di MBS mall tuh harus berusia minimal 21 (apa 18 tahun ya? lupa!). Terus pakai cek paspor. Kemudian petugas yang nerima paspor saya komen dong, "This is your very first time!" (kalau nggak salah dengar, intinya saya nangkep ini benar-benar pertama kali buat saya). Iya, Pak, saya baru ke Singapura kali ini, udah main ke casino pula.

Selama di casino, nggak boleh motret-motret. Jadi pas melintasi ruangan raksasa dan sepertinya 2 lantai khusus casino tersebut, saya muter aja gitu sama dua 'kakak' saya tadi.


foto: dok. pribadi
Meski merasa saya sendiri yang berjilbab, tapi saya berusaha nggak kikuk. Mereka juga nggak melototin saya. Bapak2 yang ngecek paspor saya tadi juga nggak komen apa-apa, ya sudah. Dengan begini saya mulai membuktikan, urusan agama bukan hal yang dibuat ribet di luar negeri. Singapura jadi contoh pertama dan kecilnya. Saya merasa, urusan keyakinan saat berada di sana, mungkin luar negeri yang lain yang mayoritas bukan Islam agamanya, benar-benar menjadi urusan pribadi. Mau berbuat nyeleweng dari aturan agama pun, semua kendali ya di diri pribadi.

Saya dan kedua 'kakak' saya tadi sempat wefie di depan pintu keluar casino. Sialnya, kami nyasar. Pintu masuk dan keluar beda sisi. Kami keluar ke tempat yang nggak jauh dari area-area dengan view patung Merlion dan gedung Esplanade Theatres yang atapnya mirip duri-duri durian. Jadi, saat kami dipanggil Pak Augustar untuk segera ke pelabuhan kapal ferry, jadi kudu keluar ke depan MBS mall dulu, masuk lagi, dan ya... agak ngos-ngosan karena kerasa jauhnya. Hehehehe.

3. Dunia malam di Amber Lounge. 

Mau tahu ulasan pesta VIP yang dihadiri driver F1, selebriti, hingga kalangan jet set Singapura? Boleh baca di sini, ya... hehehe. Suasananya persis yang saya tulis di situ. Namun, saya nggak full mengikuti acara yang diadakan dari jam 23.00 hingga 06.00 pagi.

Ngapain di sini? Ya, party diiringi musik EDM, sambil minum champagne, ngobrol sama kanan-kiri. Konon kata Pak Augustar, di sini bisa buat ajang cari jodoh buat para cewek yang mau dapat cowok konglomerat. Dari dandanan mereka, semua total abis. Yang cewek dress-dress seksi beserta sepatu atau sandal high heels. Namun ada juga yang casual sih. Lalu yang cowok ya fashionable gitu. Bagi kalangan berduit, penampilan dalam acara seperti itu udah biasa, ya. Buat saya ya... ini kayak saya di ujung sumur, mereka di ujung langit. Hahaha. 

Walaupun pakai baju semi-semi formal dan (terpaksa) pakai legging longgar (gara-gara nggak bawa celana kain, soalnya saya kira pakai jeans is okay ternyata nggak boleh, bahkan ketika networking night juga nggak boleh pakai jeans dan sandal), tetep aja kebanting nih penampilan. Untung saya di sana cuma 1 jam.

Yang nggak bikin lupa adalah, saya merasa tenggelam karena tinggi badan cuman 150 cm lebih dikit. Sementara para bule yang datang, tingginya bisa menjulang. Jangan jauh-jauh, Mas Tian itu tinggi banget. Saya di bawah pundaknya. 




Diskotik? Bukan. Tapi apa2 dan siapa2 di tempat ini, sangat mewakili gaya hidup glamor, kehidupan malam, dan hiburan nggak berkesudahan. Bagian dari #SingaporeGP . Inilah #amberlounge, VIP party para driver #f1, selebriti, hingga kalangan 'Crazy Rich Asians'-nya Singapura (di seri GP lain juga ada). Sayangnya, sa nggak berkesempatan lihat langsung mereka, karena bisa-bisa yang lain dugem sampai pagi hari, sa teler kecapekan dan molor di tempat 😌 . Konon nih, konon... boleh percaya boleh nggak, kata guide, di Amber Lounge ini bisa cari jodoh buat para cewek. Para pria konglomerat dan rupawan dari sononya ada di sini 😂 . Ulasan sikit2 ada di https://www.brilio.net/olahraga/mencicipi-eksklusivitas-di-balik-glamornya-gp-formula-1-singapura-180920c.html (bisa klik di bio 🙂🙏) dan kisaran harga #amberlounge .https://www.google.co.id/amp/s/www.brilio.net/amp/jalan-jalan/7-destinasi-ini-bukti-singapura-surga-setiap-orang-mewujudkan-impian-180921m.html #visitsingapore #exploresingapore #livelifetothefullest
A post shared by agustine w (@agustine_w) on




Dari datang jam 11 malam, kami (saya dan Mbak Santi) nunggu di dalam Amber Lounge dan berdiri. Para tamu yang datang awal, nggak boleh keluar sebelum jam 12 malam. Terus yang kursi-kursi dengan botol-botol minuman beralkohol berkelas di salah satu sudut setiap tatanan kursi, hanya buat mereka yang udah bayar. 

Memang berapa harga masuk Amber Lounge? Kalau saya lihat-lihat saat bikin artikel ini, rentang Rp 7 jutaan hingga Rp 500 jutaan! Variasi harga ini berdasarkan servis yang diterima. Edun, sih kayanya orang-orang yang beli tiket masuk ke sini. Kalau yang beli ratusan juta, itu bisa buat beli rumah sama mobil di Indonesia, dong.

Berdiri 1 jam di sana dengan nuansa remang-remang ditemani musik EDM, lelah juga, pegel di kaki. Meski penasaran, akhirnya saya dan Mbak Santi keluar. Pulang. Melepas lelah, mengisi energi, daripada ... daripada yah you-know-what-i-mean, yang nantinya akan semakin pecah dan larut dugem sampai pagi hari. Daripada bablas minum lagi minuman yang entah apa namanya juga. Welcome drink itu warnanya orange menggoda kayak orange juice, ternyata bukan. Yang jelas itu beralkohol. Sesruput udah langsung nyerah. Nggak melegakan.  

Mencicipi hotel eksklusif dengan arsitektur bangunan Eropa

Goodwood Park Hotel adalah tempat menginap saya dan rombongan. Pada dasarnya, hotel bintang 5 ini adalah warisan sejarah yang masih berdiri kokoh dan lestari. Saat tahu potret tampilan depannya hasil searching aja, sudah merasa wah. Saat sampai di sana dan tahu kamarnya, lebih melongo lagi. Maklum, yang biasanya hotel bintang 3, sekamar berdua, ini sendiri. Lux!

Menurut info yang saya dapat, biaya kamar yang saya huni selama 3 malam itu sekitar Rp 3,5 jutaan per malam. Deposit yang kudu ditinggal di resepsionis waktu itu sejumlah 150 SGD, ya sekitar Rp 1,5 jutaan. Nyedot banyak uang saku selama di sana jadinya :(. Itu aja ada minjem ke Mbak Dian :D. Namun karena semua transportasi, akomodasi, hingga konsumsi ditanggung pengundang, dan saya pikir saya nggak akan jajan-jajan juga, ada Mbak Dian pula, all is well. Hehehe. Lagian dibalikin juga karena saya nggak ambil barang yang kena charge di kamar.

Saya kasih bocoran daleman kamar yang saya dan rombongan tempati di lantai 2 Goodwood Park Hotel ya...

Ruang tamu berisi sofa, meja kerja, lemari klasik tempat TV, dan di belakang TV ada kaca super besar memenuhi dinding/foto: dok. pribadi

Lorong penghubung ruang tamu dan tempat tidur. Yang kayak pintu lemari itu kamar mandi, lho./foto: dok. pribadi

Kamar segede itu, dengan spring bed selebar ini, TV LCD super lebar, ditempati sendirian. Bobok nyenyaks. Hahaha. /foto: dok. pribadi
Kamar mandi dari keramik yang menunjukkan kesan mewah/foto: dok. pribadi

Ada timbangan berat badan! Gatel nimbang tiap pagi, ahay! Di hotel ini juga ada meja setrika beserta setrikanya, lho/foto: dok. pribadi

Refreshment/foto: dok. pribadi

Mewah pisan euy! Namanya juga bintang 5, pelayanan juga sangat baik. Kalau sarapan, ada ibu-ibu sepuh pelayan yang selalu ramah melayani, misalnya menuangkan teh atau kopi. Saya lupa namanya. Namun beliau sangat berkesan bagi saya pribadi. 

Soalnya pada hari pertama kami sarapan (hari kedua di Singapura, Sabtu 15/9), beliau sempat mengajak saya, Mbak Dian, dan Mbak Santi ngobrol. Lantas ketika beliau tahu kami mau nonton F1, beliau nyeletuk bahwa kami pasti kaya. Hahaha.

Selama 3 hari sarapan di hotel, menu favorit nasi Jepang dan lauk sosis sama ntah ikan apa namanya. Ditambah sayur tumis brokoli. Enyak!/foto: dok. pribadi

Konon masyarakat Singapura sadar betul bahwa biaya nonton F1 nggak murah. Kalau ada orang yang ke sana nonton, berarti sudah pasti kaya. Bu, ibu... kami beruntung. Hehehe. 

Mau tahu harga nonton F1? Boleh nih intip-intip di sini. Kemarin saya dan rombongan berada di Padang Grandstand, venue yang jadi satu dengan lokasi konser musik.

Suasana tribun Padang Grandstand Sabtu (15/9) saat babak kualifikasi balap F1 Singapore GP/foto: dok. pribadi

Suasana lesehan di salah satu sisi Padang Grandstand. Di depan orang duduk-duduk ini ada layar raksasa, lalu belakangnya tribun menonton balapan F1 khusus yang sudah bayar bangku/foto: dok. pribadi

Babak kualifikasi balap F1 Singapura, Sabtu (15/9) malam

Kemarin itu, kami berkesempatan nonton Dua Lipa dan Martin Garrix pada malam final balap F1. Kebetulan saya sering denger lagu-lagu mereka, jadi ya enjoy aja nontonnya. Malam sebelumnya, The Killers, band alternatif rock Amerika, Liam Gallagher si ex frontman Oasis, dan Jay Chou yang tampil.

Spot konser musik di Padang Grandstand, sampingnya panggung sudah tribun buat nonton driver F1 melintas/foto: dok. pribadi

Dua Lipa membawakan lagu andalan I Don't Give A F*ck. Dia tampil sebelum final balapan F1 berlangsung pukul 20.00 waktu Singapura, Minggu (16/9).

Baru kali itu saya merasakan ambience nonton konser yang totalitas abis. Bukan cuma lihat cewek ngedance meliuk-liuk di tanah, melainkan juga cowok mabuk tapi masih berusaha mengendalikan diri nonton konser bersama teman-temannya yang jingkrak-jingkrak. Berdirinya ya sempoyongan gitu, mata udah merem melek dan nggak fokus. Biasanya, lihat orang mabuk di sinetron, drama Korea, atau film, kemarin itu langsung lihat dengan mata kepala sendiri. 

Martin Garrix, DJ asal Belanda yang pernah duet dengan Dua Lipa membawakan lagu Scared To Be Lonely, mulai menyulap lapangan Padang jadi lantai dugem.

Takjub pada Singapura

Ke Singapura kemarin saya membuktikan sendiri omongan-omongan orang bahwa Singapura itu teratur, rapi, bersih. Jalanannya bersih, kendaraan teratur berkendara. Bahkan saya hampir jarang melihat orang pakai motor. Banyak mobil tapi nggak secrowded jalanan Indonesia. Terus ya ada sih macet tapi rapi gitu, lho. Ini kejadian saat orang-orang sepertinya menuju venue F1. 

Situasi macet di salah satu ruas jalan di Singapura bersamaan perhelatan F1 berlangsung/foto: dok. pribadi
Bahkan di titik-titik tertentu, orang nyaman pakai segway di jalan raya. Misalnya di kawasan Wildseed Cafe and Bar di Level 2, 3 Park Lane, Seletar Aerospace Dr, Park. Namun jalanan di sini waktu Jumat (14/9) kemarin itu terlihat lengang. Kawasan ini katanya merupakan kawasan perusahaan aviasi atau penerbangan gitu-gitu.


Gedung-gedung pencakar langit di Singapura banyak, tapi rasa-rasanya mata masih nyaman melihat langit. Longgar gitu rasanya melihat ke atas. 

Pesepeda di tengah padatnya jalan raya depan Fairmont hotel tapi masih terlihat nyaman kok/foto: dok. pribadi
Lalu bangunan-bangunan peninggalan orang luar seperti Eropa, juga masih terawat. Konon memang diperhatikan betul kelestarian peninggalan sejarahnya, meskipun diberi sentuhan atau ditambah unsur modern. Salah satu contohnya National Gallery, tempatnya karya seni dari seniman-seniman internasional, terutama Asia Tenggara terpampang. 

Bangunan museum ini merupakan gabungan bekas gedung Balai Kota dan Mahkamah Agung. Jadi, bangunannya gagah seperti bangunan Eropa dengan pilar-pilar menjulang, tapi ada juga sisi modernnya.

Saya dan rombongan sempat diajak menjelajahi National Gallery pada Minggu (16/9). Kami diajak melihat sejarah ruang-ruang yang dulu difungsikan kedua lembaga penting tersebut. 

Saya beserta rombongan dari Indonesia dan rombongan dari Rusia dan Dubai (atau India ya?) ditemani relawan guide di jembatan penghubung bekas Balai Kota dan Mahkamah Agung yang kini menjadi National Gallery/foto: dok. pribadi

Salah satu koleksi seni di National Gallery/foto: dok. pribadi
Setelah tur pit stop bersama relawan guide National Gallery yang ternyata seorang dosen, kami diajak Pak Augustar melihat lukisan raksasa karya pelukis tersohor Indonesia, Raden Saleh. 

Beberapa saat sebelum menjelajah bersama guide, saya, Mbak Dian, Mbak Santi, dan Pak Augustar sempat keliling sebentar. Kami melihat tangga yang digambari lukisan terkenal Raden Saleh. Lalu ke sebuah ruangan seperti penjara, dan lain-lain.

Museum ini benar-benar besar, megah, dan banyak ruang. Kalau jalan sendiri bagi yang baru ke situ, bingung sudah. Akhirnya saya ke museum ini juga setelah sebelum-sebelumnya cuma nulis artikel doang. Hehehe.





Penjara di salah satu sudut National Gallery/foto: dok. pribadi
Selama di Singapura, saya nggak jarang jalan kaki sekitar 10an menit lebih. Iya, soalnya saya dan rombongan didrop oleh Pak Ng, driver kami selama 3 hari di Singapura, di satu titik, lalu jalan kaki ke venue F1 maupun yang lain. 

Jalan kaki di Singapura nyaman banget. Orang nyebrang pun rapi karena pengguna jalan lain seperti pengemudi mobil dan motor juga tertib. Nggak pakai klakson berlebihanlah. Apalagi menggila kayak di Indonesia. Ini opini saya selama perhelatan F1 berlangsung, ya. Mungkin ada yang punya pendapat berbeda jika hari-hari biasa? Tetap sama atau gimana?

Kesan antrean yang rapi dan nggak pakai rusuh juga saya rasakan saat antre masuk venue F1. Banyak orang antre, tapi mulus aja gitu masuknya. Nggak pakai lama pula. Mas Tian sempat menyatakan hal serupa. Dia bercerita suatu ketika dia mengantre nunggu jemputan taksi, kala itu banyak orang menunggu, tapi suasananya rapi dan penjemputan berjalan lancar. Ternyata sistemnya, taksi-taksi tersebut kalau sudah menjemput lantas mengantar penumpang, dia akan balik lagi menjemput penumpang lain.

Suasana efektif dan efisien ala Singapura saya rasakan dan lihat dengan mata kepala sendiri saat para petugas panitia Singapore GP di lapangan sigap membongkar alat-alat berat seperti pagar pembatas lintasan balapan hingga panggung-panggung yang diperlukan segera setelah sesi selebrasi kemenangan Lewis Hamilton berakhir. Ya, gimana lagi? Besok Senin-nya sudah harus kembali ke fungsi sebagaimana seharusnya, sebagai jalan raya. Salut!

Nih buktinya para petugas sigap membereskan venue balap/foto: dok. pribadi


Tampang-tampang TKW kah saya?

Pengalaman mengikuti rangkaian acara nonton F1 dari STB kemarin jadi rezeki sekaligus tantangan buat saya. Saya jadi tahu sejauh apa keberanian dan kemampuan saya berbahasa Inggris. Sepertinya memang butuh usaha ekstra belajar bahasa asing ini buat saya pribadi. 

Ah, nggak lupa juga saat di Changi mau balik Jogja, hand body lotion saya disita imigrasi. Kata teman-teman saya, ukurannya yang lebih dari 100 mili berbahaya terkait tekanan udara jika dibawa ke kabin pesawat. Sebenarnya isinya sudah berkurang 1/4 botol. Ya sudahlah...kalau memang demi keamanan.

Saat di Changi, saya menemukan mesin Changi Millionaire 2018 yang pernah menjadi bahan artikel iklan di tempat saya bekerja. Nggak nyangka, selama ini bersentuhan lewat artikel, akhirnya merasakan betul menjejakkan kaki di bandara terbaik di dunia dan Negeri Singa tersebut.

Mesin untuk orang yang mampir ke Changi mencoba peruntungan jadi jutawan/foto: dok. pribadi
Semakin nggak bisa lupa saat mau pulang itu, saya dikira TKW karena duduk di ruang tunggu dekat sama TKW yang mau pulang kampung. Saya ditanya balik,"Mbak e kapan balik ke sini?". Karena konteksnya sudah obrolan TKW dari beberapa menit sebelumnya, ya otomatis saya nangkepnya mbak yang tanya ngira saya TKW juga. 

Saya sampaikan bahwa saya liputan di sini. Ya, agak songong sih. Huhuhu. Padahal harusnya diartikan global aja, ya? Karena kan bisa aja itu doa biar balik lagi ke Singapura buat jalan-jalan, atau kerja lagi mungkin? Liputan lagi?

Satu kisah dari tiga TKW yang pulang bareng saya itu memicu rasa prihatin. Dia pulang dan nggak akan balik ke majikannya di Singapura. Kalau tidak salah aslinya Banjarnegara atau dekat-dekatnya situ. Bahasanya ngapak.

Beliau cerita bahwa majikan yang dirawat sudah meninggal. Situasi ini menjadi alasan kuat dia melepaskan diri dari majikan (anak/anggota keluarga yang dirawat) yang bawel minta ampun. Soal tiket pulang ke Indonesia aja sempat hangus gara-gara si majikan mengulur-ngulur waktu berangkat ke bandara. Syukurlah, si mbak ini bisa pulang esoknya (bersamaan dengan saya pulang Senin 17/9). Baru 6 bulan bekerja, si mbak sudah harus kembali ke rumah.

Selama ini saya hanya mendengar cerita-cerita TKW dari bukunya Vabyo dan berita. Nggak gampang. Bukan hanya jarak, budaya yang 100% berbeda, melainkan juga ancaman-ancaman yang kita nggak pernah tahu gimana. Salam salut dan doa semoga selalu sehat, rejeki lancar, bahagia, dan bisa segera kembali berkumpul dengan keluarga bagi para TKW maupun TKI lainnya.

Perjalanan ke Singapura pertama kali ini menjadi pelajaran tersendiri buat saya. Tak semua orang mendapatkan kesempatan seperti saya, pun saya belum tentu merasakan keberuntungan dan mampu melakoni kehidupan orang lain. Masing-masing orang memiliki keberuntungan dan tantangan kehidupannya sendiri. 

Singapura, F1, dan segala yang terjadi kemarin, sangat lebih dari yang pernah saya bayangkan dan harapkan. Semoga suatu saat bisa kembali ke sana, dan berharap bisa menjelajahi dunia (bersama pasangan tercinta 💕😍).

Untuk dulur yang ingin menengok liputan F1 Singapura 2018, bisa klik Mencicipi eksklusivitas di balik glamornya GP Formula 1 Singapura, lainnya ini dan ini. Terima kasih~~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...