Jogja, 16 September 2024
Sekarang pukul 18.07, aku memulai menulis cerita perjalananku kali ini.
Lama sekali nggak ngisi blog ini. Rindu menceritakan detail tiap detail perjalanan begitu selesai melakukannya. Fresh from the oven. Sebab, jika ditunda-tunda nanti, feel-nya sudah beda. Iya nggak, sih? Aku sih, iya, ya. Hahaha. Contohnya part 2 perjalanan ke Bandung tahun 2022 yang tak jua aku lunasin janji menuliskannya. Jauh banget jaraknya sampai September 2024, lho. Sudah lupa. :') Rindunya ke Bandung malah dateng lagi. Tapi belum tahu kapan ke sana lagi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini.
Ya, berangkat dari rindu akan Bandung, sudah pesan tiket kereta api (KA) nih, PP Jogja-Bandung-Jogja, ternyata nggak dapat penginapan yang oke pada libur Maulid Nabi 2024 ini. Kelirunya diri sendiri nggak ngeh kalau dapat libur 3 hari Sabtu, Minggu, Senin (14-16 September 2024). Jadi buru-buru impulsif pesan tiket KA-nya.
"Tinggal cari hotelnya, deh," gumamku Rabu atau Kamis lalu.
Ternyata, mencari penginapan NGGAK SEMUDAH ITU, gaes! Dua hari dua malam aku berkutat cari penginapan yang oke di berbagai platform agen: air lancar, kamar mandi bersih, ga horor, terjangkau ojek online (sebab niatnya solo traveling kali ini mau manfaatin ojek online aja ke mana-mana). Ternyata harapanku nggak ada yang terpenuhi. Aku bener-bener pengen yang aman dan nyaman buat perempuan. Singkat cerita aku batalkan, deh.
Namun, karena aku nggak mau manyun dan berakhir 'gloomy' libur 3 hari, kuputuskan ke Solo. Kali ini nginep dengan biaya sendiri untuk 2 hari 1 malam. Sebelumnya nginep di rumah kawan. Sudah darurat pengen keluar kota. Aku juga belum pelesiran ke mana-mana tahun ini, kecuali ke Solo! Solo lagi, Solo lagi. Hahaha.
Lika-liku sebelum nginepin motor di markas tentara.
Karena memilih nginep di hotel daerah Slamet Riyadi, deket Stasiun Purwosari, dengan city view (sumpah, aku puas! dan hotelnya hotel favoritku sejak aku coba di Semarang), artinya budget 'ke Solo doang' agak 'bengkak', aku akalin PP kontrakan-Stasiun Lempuyangan-kontrakan pakai motor sendiri. Aku inapkan motor ke penitipan.
Nyeseknya, semua penitipan motor di area Stasiun Lempuyangan, pun di stasiunnya, PENUH! Duh, aku deg-degan. Mana udah booking hotel, no cancel-cancel club pula. JANGAN GOSONG, dong. Sudah niat mau nitipin motor ke kantor, yang jaraknya mungkin PP 30 menit. Wah, padahal pengen ngejar KRL sebelum dzuhur. Tapi aku setting longgar aja lah. Niatku kan emang mau escape santai. Terus ini nih, part rezekinya: Denpal sebrang Stasiun Lempuyangan buka jasa untuk lahan parkir motor dan mobil. Aih, deg-degan dan semangat kalau masuk markas tentara. Hahaha.
Di situ laporan: nama, jenis motor, nomor polisi motor, no. HP kita ke petugas jaga. Aku titip dari sekitar jam 10.30 Minggu sampai esoknya (hari Senin 16/9/2024) sore hari, ditarik Rp20 ribu. Setelah itu, diarahkan petugas jaga ke bagian belakang, dekat lapangan futsal di Denpal situ. Nitipin barang ke markas tentara beres, merasa tenang, jadi pergi ke Solo nggak ada kekhawatiran apa pun.
Seperti biasa, aku naik KRL yang datang dari arah timur/Solo-Palur di Lempuyangan lalu ikut ke Tugu (Stasiun Yogyakarta). Ini trik biar dapat tempat duduk. Melihat di Stasiun Tugu, antrean penumpang KRL ternyata persis di video viral, penumpang mengular padat seakan siap-siap war. Padahal dari Lempuyangan pun sudah rame, karena udah banyak yang tahu trik yang kupakai tadi. Hehehe. Alhamdulillahnya aku dapat tempat duduk sesampainya di Tugu ketika orang-orang dari arah timur tadi turun di Tugu.
HARI PERTAMA
Kooken Cafe: Kulineran sambil cuci mata produk batik
Selama perjalanan kurang lebih 1 jam dari Jogja-Solo, aku nggak sabar untuk segera berkunjung ke sebuah cafe yang dikunjungi kawan kantor seminggu sebelumnya. Kooken cafe di Kauman (gang atau jalan kecil di Jalan Slamet Riyadi). Yang punya saudagar batik Solo langganan Presiden Jokowi, lho. Gunawan Setiawan.
"Sepanjang jalan ini tuh banyak (usaha batik) punya Pak Gun," ujar seorang senior yang menemani perjalananku kali ini di Solo. Dia menjelaskan cafe yang kami datangi itu milik siapa dan titik mana di satu area jalan Kauman situ yang punya Pak Gunawan Setiawan. Seniorku itu wartawan yang dulu wawancara Pak Gun.
Ternyata iya, spot batik (jualannya) nggak cuma di cafe yang kami kunjungi tadi, tapi juga di area yang masih masuk lagi di gang/jalan itu. Di jalan itu juga banyak spot foto menarik. Siang kemarin, Minggu (15/9) banyak banget anak muda dan wisatawan yang mengabadikan momen liburan di titik-titik berfoto itu. Cakep-cakep ornamen Jawanya! Kami berdua juga sempat merasakan berfoto di spot-spot cantik itu.
Produk batiknya juga sekilas oke punya, ya. Kemarin lihat daster lucu, bahannya adem, sayang nggak aku foto. Konon, harga batik Pak Gun ini ya wow ya, ratusan ribu rupiah. Kalau batik tangan ya bisa mencapai sejutaan. CMIIW.
"Tapi beneran bagus-bagus, lho," tegas seniorku soal produksi batik Pak Gun di Kauman ini.
Kalau soal menu cafe, cukupan untuk menumpas kelaparan siang-siang turun dari KRL. Hahaha. Saking lapar dan ingin sesuatu yang menggairahkan, aku pesen nasi sambal matah, pempek, dan ocean blue ice. Sedari pagi berangkat dari Jogja belum sarapan, jadi terbayar tuntas laparku! Harganya terjangkau under Rp50 ribu gitulah tiap menunya. Bisa cek ke Instagramnya, ya.
Soal suasana, ornamen desainer interiornya sih Jawa. Tapi gedungnya ala Belanda. Dinding tebal, pintu dan jendela tinggi menjulang. Gedung Indies ya namanya? Jadi klasik-klasik cakep gitu. Vibesnya sih modern ya, nggak disetelin gending Jawa juga. Lagu-lagu pop luar gitu.
Mencicipi mi Chinese di dalam gang
Aku tuh suka banget makanan Chinese namun khazanah kulinerku memang minim. Entah, apa jangan-jangan secara genetik, DNAku ada China-Chinanya, ya?
Jadi kali ini aku diajakin seniorku makan mi ayam ala Chinese gitu lah. Nama kedainya Cha Wan. Bisa tengok menu-menu dan suasananya di Instagram.
Jadi dia ada di satu gang, yang seakan satu gang itu milik dia sendiri. Terus ada spot dalam ruangan dan luar ruangan. Aku pilih dalam ruangan karena lebih oke, meski penerangannya agak temaram. Persis rumah simbah-simbah Chinese atau blasteran atau bersuamikan/beristrikan orang Chinese daratan yang imigrasi ke Jawa gitu.
Sumpah, aku terlempar ke masa lalu saat berada di dalam ruangan itu. Lukisan dindingnya kayak Laksamana Cheng Ho gitu. Lalu ada lemari kayu yang ada kacanya. Isinya rantang-rantang lawas. Ada mesin jahit juga.
Duh, jadi inget mendiang simbah sahabat baik simbah putri dan kakungku dari ibu yang menikah dengan orang China daratan, imigran ke Indonesia. Al-Fatihah untuk simbah dan kedua simbah kandungku.
Aku pesan mi ayam pangsit jamur. Kuah di bagian atas/permukaan tuh gurih nikmat. Tapi ternyata di akhir-akhir asin. Kayaknya aku nggak ngaduk maksimal, deh. Tekstur mi-nya nggak terlalu matang, jadi aku masih nggak eneg. Kalau es teh tariknya sih 'light' banget, ya. Nggak medhok teh tarik. Tapi cukupan melegakan.
Wedangan Mbah Wir: Cari 'obat' masuk angin andalan, jahe cokelat
Jelang magrib kan sudah kenyang mi ayam, nih. Lepas magriban di Solo Paragon (iya, kami ngadem ke mall cobaa), kami ngangkring. Seniorku merekomendasikan spot wedangan yang nggak jauh dari tempatku menginap. Jalan kaki paling 10-an menit.
Ternyata angkringan ini RAME POL! Menu andalannya sih jahe cokelat dan jadah apolo (jadah dibakar). Aku kemarin coba jahe cokelat dan nasi kucing lauk sambel bandeng. Kirain suwiran bandeng, ya, ternyata sambel bandeng yang cuilan bandengnya kecil. Huhuhu. Tapi enak, sih. Makin kenyang setelah makan mi.
Wah, sumpah, kemarin cuma makan muluuuu. Jahe cokelatnya AMPUH bikin sendawa terus dan (sori) buang angin. Enteng di badan. Apalagi abis itu kami jalan ke hotel. Ya bakar kalori, ya bikin betisku pegel sampai susah tidur malemnya. Jam 1 bangun, jam 2 bangun, jam 3 bangun. Sampai aku olesin C**nterpain baru hilang pegelnya. Tidur pules, deh.
Bicara soal harga sih, terjangkau banget masihan, ya. Aku berdua dengan seniorku habis Rp48.500. Itu mencakup 1 jahe cokelat, 1 teh anget, gorengan 3-4 buah, 2 buah sate ampela ati, dan 2 nasi kucing. Tapi fyi, sate ampela atinya aloottttt! Aku penggemarnya jadi "Haduh, gini amat makannya! Susah!" tapi oke gapapa. Udah aku telen juga. Hahaha.
HARI KEDUA
Escape ke Taman Balekambang
Sudah cukup lama aku ngincer pengen ke Taman Balekambang sesudah direvitalisasi. Pengen grounding. Niatnya sih malam sebelumnya, aku jalan pagi tuh di Manahan lalu ke Balekambang. Ah, mager. Check out juga jam 12. Bingung nanti, masa bawa-bawa backpackku?
Akhirnya aku dan senior ke sana selepas dzuhur. Eits, tapi karena aku belum makan sedari pagi, kami makan dulu ke selat Vien's. Sorry, guys, aku serakah kali ini. Hahaha. Aku pesan 2 menu: selat Solo dan sop manten. Masih plus nasi semangkuk. Tapi nasinya nggak abis seluruhnya, sih. Tapi ini menolong banget. Aku biasanya kalau kena panas siang hari gitu, pusing. Apalagi perut belum terisi. Tadi tuh nggak. Aman meski panas-panasan.
Vien's di saat libur panjang ramenya luar biasa. Antrean aja mengular. Nggak kepikiran putar balik karena udah kadung sampai, masa pergi? Sekalian aja makan di tempat. Untuk menu yang aku pesan, aku habis Rp39.000 (1 selat Solo 1 daging cacah, 1 sop manten, 1 nasi putih, 1 air mineral botol 600 ml).
Nah, dari Vien's, kami berdua ke Taman Balekambang. Transportasi kami berdua ke mana-mana pakai taksi online, ya. Dibagi dua nantinya. Sesampainya di Taman Balekambang, duh panas. Ya kami datangnya siang-siang lepas dzuhur. Belum rame, tapi cukup banyak pengunjung. Muda-mudi, keluarga kecil, keluarga besar, orang tua, dll. Per orang ditarik tarif masuk Rp5.000. Wah, beneran tempatnya cocok buat jogging atau olahraga keliling sambil earthing atau grounding. Tahu gitu ya pagi-pagi tadi ke sini. Tapi ya sudahlah, next time pagi-pagi, ya, Tin. Jangan mager!
Aku dan seniorku nggak keliling keseluruhan area Balekambang sebab terlalu luas dan cuaca terik banget. Aku juga rencana mau balik sebelum sore karena motorku harus kuambil sore di markas tentara tadi. Hehehe. Takut nombok lagi.
Meski cuma 1,5-2 jam di Balekambang, mata ini sudah cukup seger lihat yang ijo-ijo dan merasakan sepoi-sepoinya angin. Coba bisa duduk lebih lama, pasti nyaman banget. Lepasin semua stressss.
Sebenarnya Balekambang ini lagi dalam proses "kembali hidup". Perawatannya belum maksimal (lagi). Apalagi setelah sempat dibuka tempo hari, ternyata banyak sisi yang (di)rusak oleh warga yang berjubelan datang karena saking antusiasnya ada taman kota di Solo. Sempat ditutup lagi tuh. Batinku, aku belum cobain udah ditutup lagi, sih. Tadi pun ke sana juga area luar masih ditutup pagar seng, tandanya perbaikan dan perawatan masih terus berlanjut.
Papan informasi juga kayaknya masih minim, ya. Cuman memang ada suara sound yang muterin lagu dan kasih info seputar Balekambang. Tadi yang diputer full lagunya Denny Caknan, deh. Terus suara yang kasih info tuh terkesan kaku kayak suara AI banget, lho. Ngomong "... Sayang-sayangku... " di akhir kalimat tuh kaku banget. Robot, tuh. Tapi gapapa, dibikin baper sama robot. Hahaha.
Bayar cuma Rp5.000 (exclude parkir motor/mobil, ya, tadi lupa berapaan), bisa jogging ngademin pikiran kan manteb banget, ya. Tapi... konon kan ini dibuka juga malam hari, kayaknya kalau malem, aku nggak mau deh. Cuman sejauh ini, info di Google, buka dari jam 7 atau 8 pagi sampai jam 5 sore aja. Mungkin nanti akan ada update lagi di akun Instagramnya.
Well, dua hari satu malamku cukup memuaskan. Kalau boleh share budgetnya, berikut gambarannya:
1. Hotel 1 malam: 390.000 (PoP! hotel)
2. KRL Jogja-Solo-Jogja: 16.000
3. Taksi online di Solo (share dengan teman): 57.000 (per orang)
4. Ojek online dari stasiun ke Kooken dan dari Balekambang ke stasiun: 27.000 (aku doang ya)
5. Titip motor di Denpal Jogja: 20.000
6. Makan & jajan (nggak beli oleh-oleh): 156.000
7. Tiket Balekambang: 5.000 (per orang)
Total sekitar Rp670an ribu di Solo 2 hari 1 malam. Tentu ini personal banget, ya, gaes. Temen-temen bisa menyesuaikan soal hotel, transport, maupun makanan/jajannya. Doaku: moga rezekiku dan siapa pun dilancarkan untuk bisa escape-escape gini. :'). Bukan ingin niat boros, tapi ada tekanan yang perlu dirilis segera. Makanya aku sempetin escape. Mudah-mudahan perjalananku ini barokah. :)
Tahun 2024, aku traveling masih sendiri. Padahal 2019 udah nulis: mau ke mana setelah ini dan sama siapa... niatnya tentu sama pasangan. Ternyata rezekiku masih dalam bentuk lain. Nggak apa. Hak Sang Maha mau kasih kapannya.


















.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar