![]() |
| Peserta UKW yang terdiri dari 3 media (Brilio.net, Merdeka.com, dan Liputan6.com di bawah payung Kapanlagi Youniverse) bersama penguji dari UPN Veteran Yogyakarta. |
Tulisan pertama pada 2020. 😂 Pandemi nggak memicu gairah nulis panjang curhat begini. Okelah kalau begitu, saya mau cerita pengalaman ikut ujian biar sah jadi war-ta-wan.
Pada 4-6 Desember 2020 lalu, saya dan kawan-kawan satu kantor menjalani Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Sejumlah 17 orang diuji oleh wartawan senior sekaligus dosen yang punya lisensi jadi penguji UKW. Kami dibagi ke dalam tiga kelompok. Para senior saya di kantor, dikumpulkan jadi satu kelompok. Saya beserta kawan satu angkatan pertama banget di media tempat saya bekerja plus kawan-kawan angkatan selanjutnya--total enam orang--berada di kelompok kedua. Sisanya di kelompok ketiga. Kelompok satu dan tiga terdiri dari wartawan lintas media yang berada di bawah payung besar satu perusahaan yang sama. Sementara kelompok saya, pure kawan satu media yang sama.
Semula UKW direncanakan pada akhir November. Pemberitahuan H- 1-2 minggu bikin kami semua diam-diam deg-degan. Akhirnya terluahkan keluh kesah setelah mendekati hari H. Ada yang curhat nggak hafal pasal-pasal lah, stres ngumpulin 20 kontak narasumber yang sudah pernah diwawancarai lah, resah pengujinya enak apa nggak, dan lain sebagainya. Ternyata setiap orang punya ketakutannya sendiri. 😊
Namun kami semua mempersiapkan diri semampu kami. Belajar Kode Etik Jurnalistik, UU Pers No. 40 Tahun 1999, Pedoman Pemberitaan Siber, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, dan UU ITE. Saya sibuk menghubungi senior lain menanyakan pengalaman UKW, endingnya beliau bilang, "UKW anggap aja rekreasi jurnalistik." Ah, bhaiq. Terus teringat pesan ayah, "Kalah cacak, menang coba."
Jauh-jauh hari saya masih tenang, tuh. Tapi masuk hari pertama Jumat (4/12), yang mana masih pemaparan atau pra UKW, udah mulai mules, deg-degan, tenggorokan nggak nyaman. Cemas menyerbu, nih. Nggak terlalu hebat sih, soalnya sedari awal saya setting mindset, "Oke, ini semua cuman ketakutanmu, belum tentu kejadian juga. Apa pun yang terjadi, yo terjadilah. Lulus nggak lulus, semoga rezekimu tetep ngalir, Tin." 😂 Ngalir ajalah tapi ya kepikiran, tapi ya santai, tapi ya gitu, deh. Udah nggak keruan perasaan.
Hingga akhirnya dapat penguji yang Ya Allah, Ya Gusti, Ya Karim, membantu banget! Pak Agung Prabowo namanya. Beliau Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta. Diuji beliau berasa semi-semi kuliah gitu. Diterangin cari angle menarik soal berita, dll. Ah, out of topic, Agung Prabowo persis seperti 1/3 nama adik kedua saya. Saya bilang ke keluarga, karena namanya sama dengan adik, semoga UKW ini saya beruntung.
![]() |
| Pak Agung Prabowo (berkemeja putih polos) di antara kami para adek-adeknya :) |
Sebagai orang yang nggak punya latar belakang komunikasi jurnalistik, ya memang saya learning by doing selama ini. Cuman modal pernah dulu di sekolah belajar KEJ dan semasa kuliah dapat matkul Psikologi Komunikasi.
BOCORAN MATERI UKW WARTAWAN MUDA
Nah, apa aja sih yang diujikan dalam UKW untuk level wartawan muda yang saya dan kawan-kawan jalani kemarin? Berikut listnya.
1.1 Memahami dan Melaksanakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan
Hukum/Undang-undang/Peraturan terkait Pers.
1.2 Merencanakan/Mengusulkan liputan
1.3 Rapat Redaksi (Rapat Dengan Wartawan Madya)
1.4 Mencari Bahan Liputan Acara Terjadwal (Menghadiri Konferensi
Pers)
1.5 Wawancara Cegat (Doorstop)
1.6 Membangun Jejaring
1.7 Menulis Berita
1.8 Menyunting Berita Sendiri
1.9 Wawancara Tatap Muka
1.10 Menyiapkan Isi Rubrik
Dalam proses di lapangan, penguji bisa membuat kesepakatan dengan peserta menyesuaikan sisa waktu yang ada. Pada hari pertama, sebetulnya hanya ada tiga materi uji, antara lain Memahami dan Melaksanakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Hukum/Undang-undang/Peraturan terkait Pers, Merencanakan/Mengusulkan liputan, dan Rapat Redaksi (Rapat Dengan Wartawan Madya). Sisanya pada hari kedua.
Namun karena masih ada sisa waktu banyak pada hari pertama, akhirnya ditambah materi uji Wawancara Tatap Muka dan Menyiapkan Isi Rubrik. Nah, pada hari kedua, peserta full praktik simulasi lapangan, antara lain Mencari Bahan Liputan Acara Terjadwal (Menghadiri Konferensi Pers), Wawancara Cegat (Doorstop), Membangun Jejaring, Menulis Berita, Menyunting Berita Sendiri.
Tambahan informasi aja, simulasi konferensi pers dan doorstop ini beneran ada narasumber. Dalam UKW kali ini, ada Pak Endy Latief, GM Garuda Indonesia Yogyakarta, dan Pak Eko Budianto, Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto. Kelompok saya dan kelompok tiga dapat Pak Eko, nih. Sementara kelompok satu yang berisi para senior, mendapat Pak Endy sebagai narasumber.
![]() |
| Gambaran wawancara doorstop dalam UKW. Dalam foto adalah Pak Eko. Di belakangnya 2 penguji peserta. |
Setelah konferensi pers dan doorstop, materi dari narasumber dieksekusi menjadi berita. Setelah jadi, diserahkan ke penguji lalu dikasih feedback untuk masuk ke materi uji Menyunting Berita Sendiri. Kali ini sih, penguji minta peserta mengubah angle berita.
Nah, kalau untuk simulasi wawancara tatap muka, itu tandem dengan kawan satu kelompok bermain peran pewawancara/wartawan dan narasumbernya. Gantian bermain peran. Di situ ada penguji yang mengamati dan menilai performa kita saat wawancara tatap muka dengan narasumber.
Singkat cerita, pada hari kedua, semua peserta diberitahu nilai masing-masing materi uji dan 17 peserta dinyatakan kompeten. Otomatis semuanya serentak bilang, "Alhamdulillah."
"Akhirnya sah jadi wartawan!" seru pemred tempat saya bekerja, yang pengalamannya sudah wahid banget. Beliau sudah dua kali sukses mendirikan/memandu media nasional yang bertahan sampai sekarang (semoga langgeng ke depannya juga). Salah satunya tempat saya berkarya sekarang. Beliau ikut UKW wartawan muda karena memang belum pernah ikutan.
Konon dari tim panitia UKW, beberapa tahun lalu, wartawan yang secara skill sudah oke dan senior, bisa 'melompat' ikut UKW level wartawan madya, tapi belakangan sebanyak apa pun skill atau seberapa lama jadi wartawan kalau belum ikut UKW level wartawan muda ya kudu dimulai dari level ini dulu. Nggak bisa lagi 'lompat' level.
Sertifikasi wartawan lewat UKW ini menjadi 'SIM' kami menjalankan kerja jurnalistik. Tinggal tunggu kabar dari Dewan Pers untuk mendapatkan kartu biru sebagai tanda sah jadi wartawan muda. Semoga lancar semuanya dan kami amanah menjalankan kerja jurnalistik.
KADO MANIS PENUTUP 2020
Ikut UKW membuat saya merasa baru saja menuangkan satu teko lain ke wadah kapasitas diri. Terima kasih banget untuk pemred yang sudah 'memaksa' kami ikutan UKW. Sebab, 1-2 tahun lalu mau ikutan yang diselenggarakan organisasi wartawan, masih keder banget.
UKW ini juga terasa seperti kado manis penutup 2020 yang diguncang pandemi. Bisa bertahan dan sehat selama 2020 itu sudah alhamdulillah. Masih punya kerjaan, orangtua dan saudara sehat, nggak kurang soal bertahan sehari-hari, itu udah anugerah besar. Iya, hal-hal yang selama ini kita anggap sepele, bener-bener bisa jadi bahan bersyukur yang tiada terkira.
Pandemi betul-betul bikin psikis up and down. Kadang berani, kadang keder. Kadang mau nekat staycation di luar kota, tapi juga pengen pulang ke rumah, makanya takut kalau mau main di kota lain, malah (naudzubillah yaa) bawa penyakit. Tapi di sisi lain butuh kayak break, cari suasana baru. Minimal satu minggu, deh. Tapi kondisi corona yang masih belum enyah ini, kayaknya harus nambah sabar untuk menahan keinginan pelesiran.
Selama 2020, saya nggak banyak upgrade diri. Awal-awal pandemi udah kayak yang penting saya aman, sehat, kerja bisa lancar, cukup. Keluarga juga demikian, cukup. Masalah nggak bisa pulang sementara--5 bulanan saya nggak pulang, termasuk Lebaran--bukan masalah. Saya masih bisa ngempet, meski ini rekor sih. Udah berasa kayak mahasiswa luar pulau yang pulang setahun 1-2 kali ya. Mwehehehe.
Beberapa bulan setelah pandemi berlangsung, mulai ketemu nih sama 2-3 temen di luar kantor untuk nambah semangat, saling support karena ada yang juga jauh dari orangtua. Ngobrol ngalor-ngidul, soal reinkarnasi, guardian angel, sampai niatan traveling bareng segala. Baru mau ujung 2020, ikutan webinar atau talkshow gitu. Sisanya nonton Kisah Tanah Jawa atau Diary Misteri Sara, dan yang belakangan drama Turki.
Nah, gara-gara nonton horor dan drama, kepikiran nih saya tuh reinkarnasinya siapa? Wkwkwk. Leluhur saya itu siapa dan kayak apa? Saya punya guardian angel nggak sih? Sampai Ya Gusti, saya mau ke Turki nggak tahu gimana caranya. Butuh berapa tahun lagi, kasih waktu nabung, nggak apa. Entah umroh atau haji mampir ke Turki, entah murni backpacker, atau bulan madu, mbuh piye carane, tulung saya diijabah sekali seumur hidup--minimal--ke Turki. Pengen banget! Pokoknya selama berangkat, di sana, dan balik selamat dan sehat, nggak kurang satu apa pun. Kalau habis nonton drama Malaysia aja akhirnya bikin pengen ke sana, trus nggak lama bisa merealisasikannya, mudah-mudahan yang Turki bisa dikabulkan sama Gusti Allah. 😄
BENIH JADI WARTAWAN
Menjalani profesi di bidang jurnalistik bukanlah sebuah 'kecelakaan'. Saya menghendakinya sejak jelang lulus kuliah. Kala itu, saya pengen kerja di media, bertemu orang terkenal dan hebat. Kalaupun nggak jadi wartawan, jadi bagian manajemen perusahaan juga nggak masalah. Terus sejak sekolah tuh suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia soal EYD dll. Tapi nggak ngeh kalau itu bakal jadi benang merah sekarang jadi wartawan.
Long story short, Allah kasih nih kerjaan jurnalistik, nulis. Sesuai dengan kemampuan saya. Sesuai juga buat saya yang (dulu) nggak bisa naik motor, akhirnya tugas banyak di dalam kantor. Pokoknya, pekerjaan ini anugerah buat saya! Di Jogja pula, tempat yang dulu sempat saya celetukin, "Enak kali yang hidup di Jogja?". Kurang apa coba? Ditambah bisa masuk akses ke TNI AU, dunianya pilot pesawat tempur yang dulu saya kagumi--padahal dulu belum pernah ketemu pilot dengan mata kepala sendiri, sih. Allah kasih semuanya di luar ekspektasi.
Sekalipun banyak yang bilang suruh hati-hati terjebak zona nyaman, ya saya mulai gelisah tapi akhirnya saya mikir belum ada yang membuat saya harus cabut dari tempat bekerja atau melepas status sebagai--sebut saja--wartawan (Serius, ini profesi agak beban buat saya. Ilmu saya masih ceteeekkkk banget! Terlalu bermarwah buat saya). Tapi kadang yang saya pertanyakan, relakah saya melepas dunia jurnalistik?
Berkarya di bawah payung perusahaan saya bernaung sekarang itu kayak nemu jodoh. Nggak bisa disebut susah tapi ketika datang tuh bener-bener kayak rezeki banget. Apalagi membangunnya bareng-bareng sedari awal. Tahu banget susahnya kayak apa hingga seperti sekarang. Jadi susah melepasnya. Di tempat sekarang, saya mengalami berbagai hal hingga sampai di posisi sekarang.
Ada nih pengalaman yang nggak mungkin saya lupain. Namanya Tantangan 29 Hari. Itu 2016, saya mantengin orang pacaran/pasutri posting tantangan romantis. Waktu itu, tim media sosial belum seperti sekarang. Belum terbentuk, embrionya masih mau dibikin. Kala itu saya diberi tugas untuk handle digital activity ini selama satu bulan. Tepatnya Februari karena memang merayakan Valentine.
Dalam prosesnya, tiap hari ratusan pasangan saya nilai udah memenuhi kriteria kompetisi atau belum. Saya sampai belain tidur kantor dan jam biologis kebalik-balik. Mana kantor disebut-sebut horor, lagi. Soalnya dulu tantangan dimulai pagi, batas waktunya sekitar sore kalau nggak salah inget. Nah, habis itulah saya mulai skoring tiap postingan sampai tengah malam. Kirim reportnya bisa jam 2-3 pagi. Baru saya tidur, subuh bangun, lalu balik kost lanjut tidur, dzuhur ngantor lagi. Kenapa harus begitu? Soalnya komputer dan jaringan internet yang proper cuman di kantor. Untunglah kost saya deket kantor. Ibarat kata kayang aja nyampe. 😆
Ngerjain Tantangan 29 Hari dibantu temen kuliah yang jadi freelancer khusus proyek ini, bikin saya ngempet dan belajar banyak hal. Ngempet lihatin orang pamer kemesraan, ngempet netizen pada ngadu di DM bilang bahwa partisipan lain melakukan kecurangan, dan sebagainya. Belajarnya yang jelas soal koordinasi antardivisi, kerja keras jungkir balik, dan gimana harus merepresentasikan perusahaan lewat media sosial kala itu.
Lepas ngurusin Tantangan 29 Hari, saya dioper ke divisi tim iklan. Bikin artikel bersponsor gitu, sampai sekarang. Bongkar pasang personel sudah saya lalui. Belajar jadi leader juga. Belajar mengendalikan diri saat menghadapi drama-drama di kantor. Intinya, jadi ladang mendewasakan diri. Selamanya menjadi pembelajar kehidupan.
Dipikir-pikir khidmat, nggak ngira juga sih bakal jadi wartawan. Sempet keder. Tapi nyatanya seperti ini, dikasih porsi sesuai kemampuan dan kebutuhan. Terima kasih untuk diri sendiri yang tetep jalan meski kadang ragu, takut, tapi tetap ogah stop. Tentu, terima kasih untuk semuanya, Gusti Allah, keluarga, dan semuanya yang merasa pernah bersinggungan dengan saya. Semoga kita sehat semua, 2021 dst jadi masa-masa emas dan berkah. Aamiin.




Komentar
Posting Komentar