Langsung ke konten utama

Perjalanan sentimental ke Kuala Lumpur, Malaysia

 

Tepat satu pekan yang lalu, Senin (25/11), saya memulai pagi menuju Batu Caves. Naik KTM Komuter yang saya lupa berapa harga tiketnya--sebab diuruskan seorang travelmate lewat mesin--, kami duduk di gerbong yang lengang, hanya berisi sekitar 10 orang (termasuk saya dan kawan). Tak sampai 30 menit apa ya, langkah kami dari stasiun Pasar Seni sudah sampai di stasiun Batu Caves.

Koin untuk naik KTM Komuter, untuk LRT berwarna biru

Belum juga coba yang di Jakarta, kan ya~~~
Kompleks kuil umat Hindu ini menjadi destinasi pertama saya dan travelmate di Kuala Lumpur (KL). Saya nggak mengira tebing indah ada di KL, pinggiran sih tepatnya. Nggak mengira juga kalau saya merasa menaiki tangga Batu Caves itu nggak sebanding dengan capeknya menaiki Bukit Tidar di Magelang, lebih-lebih Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul. Sumpah! Ngos-ngosan sih ngos-ngosan tapi sensasinya nggak separah saat di Magelang maupun Gunungkidul.

Hari Senin pagi, lengang wisatawan

Jangan khawatir di sini kudu bayar berapa. Gratis! Tapi kalau dulur semua pakai pakaian pendek selutut, biasanya kena biaya sewa kain sih--begitu yang sempat saya baca dari sebuah blog--sebagai bentuk penghormatan tempat ibadah setempat. Ya, persis kalau berkunjung ke pura-pura di Bali sih, ya.

Gua di puncak Batu Caves ternyata berisi kuil pula. Di pintu masuknya juga ada pedagang pernak-pernik khas India atau umat Hindu. Atapnya yang (ternyata) masih tinggi menjulang itu bolong, mengizinkan cahaya terang menimpa ruangan gua kala matahari menyapa.

Nampak layaknya air terjun yak? :D

Isi gua Batu Caves

Persis di depan pintu masuk setelah anak tangga terakhir paling atas
Menikmati pusat kota Kuala Lumpur dari ketinggian serta kejauhan di puncak Batu Caves, membuat saya auto ingat video musik Yuna, penyanyi terkenal asal Malaysia, yang berjudul Forevermore. Ada satu scene yang dia take adegan di anak tangga Batu Caves. Lagu itu sendiri menularkan spirit optimisme. Sejalan dengan apa yang saya rasakan.



Selama ini nggak pernah punya cita-cita jalan-jalan ke luar negeri (LN) hingga suatu hari berkenalan dengan kawan-kawan yang suka traveling. Saya pikir, apa salahnya kalau saya juga jalan-jalan? Apalagi impian dulu sebelum berdikari (duit nggak minta-minta orangtua), saya mau melakukan apa pun yang saya pengen kelak sudah berpenghasilan sendiri. Pelan-pelan keinginan jalan-jalan ada tapi nggak punya bucket list harus ke mana--bahkan hingga detik ini.

Ogah niruin gayanya Yuna, beda ukuran bodi, nanti fail :/
Perjalanan ke LN saya dimulai ke Singapura pada September tahun lalu, untuk urusan pekerjaan. Sejak saat itu, saya terpikirkan akan ke LN lagi dengan budget sendiri. Atau jalan-jalan ke Indonesia belahan mana deh, saya mau. Ya, asal duitnya ada, waktunya juga ada. Ya, memang harus diupayakan. Target cuma akan jadi sekadar target kalau nggak diniatin dan diupayakan to ya?

Persis ketika ke Malaysia ini. Akhir 2018 sih pengennya traveling solo ke Bali. Sampai-sampai survei tanya sana-sini. Ealah, mung wacana. Sebab, saya memang nggak doing something untuk mewujudkan target itu. Hingga akhirnya pertengahan 2019 bucin-bucinnya sama sinetron Malaysia. Merembet suka sama beberapa lagunya, dan berkeinginan baca novel lokalnya (sebab banyak novel lokal Malaysia diangkat ke sinetron, termasuk yang pernah saya tonton).

Gayung bersambut, ternyata travelmate saya yang juga kawan kantor, berkeinginan ke sana pula. Sama-sama newbie traveling ke LN dengan budget pribadi, akhirnya kami merancang perjalanan. Sekitar Agustus atau September 2019, kami getol cari tiket pesawat murah. Singkat cerita, akhirnya kami dapat pesawat murah dari Jakarta. Rela-rela deh dari Jogja naik kereta ke Jakarta.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar sekalipun sempat refund pesanan hotel gara-gara saya baca reviewnya yang bekas orang tewas (entah bunuh diri atau dibunuh) dan jadwal pesawat yang mundur dua kali sehingga hari pertama kami habis di pesawat dan imigrasi KLIA 1 hingga nyaris tengah malam. Iya, sampai hotel di Pasar Seni sudah nyaris jam 12 malam. Sempet keder juga ketemu gelandangan atau agak-agak gangguan psikis yang ngagetin kami jalan di kegelapan dari stasiun ke hotel. Belum lagi 'ketipu' agen travel yang ngasih info di deskripsi kamar yang kami pesan private bathroom, ternyata shared bathroom. Tapi alhamdulillah aman dan nyaman. Kami di hotel pun hanya malam hari lalu paginya langsung cus-cus aja.

Teras hotel tempat kami menginap. Sensasinya di kamar kayak kamar kos-kosan. Huhuhu.
Perjalanan ke Malaysia kemarin saya mau jadikan titik awal melakukan perjalanan lain. Entah nanti ke mana lagi. Mau ke Indonesia Timur kah? Ke kawasan Sumatera? Atau merealisasikan ke Bali? Entahlah. Apa yang saya cari? Saya tak pasti mau cari apa. Meminjam istilah teman, ya kasih self-reward aja. Siapa tahu ketika sudah di jalan menemukan something?

Saya ini bukanlah orang yang pandai mencari/mendapatkan makna setiap apa yang saya alami/temui. Nggak ada niat pun menjadi motivator yang menerjemahkan momen traveling ke dalam kutipan-kutipan bijak. Namun saya suka menemukan/mengalami hal baru--meski kadang cemas karena sensasi shocknya terasa. Yah, sekalian memakmurkan dunia per-Instagram-an boleh lah ya~~~

Foto-foto di Batu Caves juga sudah menghiasi Instagram saya. Wkwkwkwk. Mayan kan... Selepas dari Batu Caves, kami kembali ke KL Sentral, pusat segala macam transportasi yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain di kota KL.

Muka KL Sentral, ada halte GOKL (yang gratis ke mana-mana)
Niat hati membeli novel di MPH Nu Sentral (rasa-rasanya mirip Gramedia kalau di Indonesia). Bodohnya, saya jalan ngikutin Google Map lewat jalan raya, naik-turun jembatan, menyisir trotoar, demi sampai ke toko buku ini. Ternyata nyasar! Toko buku itu ada di dalam mall Nu Sentral. Energi dan waktu yang harusnya bisa dihemat, terbuang si--- nggak sia-sia juga sih. Mayan bakar kalori kan? Padahal belum sarapan sedari pagi. Cuman keisi air kelapa diminum dari batok kelapanya seharga RM 5 (kalau dirupiahkan dengan nominal Rp 3.475 seperti saya tukar sebelum ke Malaysia, ya sekitar Rp 17.375).

Saya bingung beli novel yang mana sewaktu di depan rak-rak khusus novel. Ya, saya cari novel romance, tapi cari yang oke dan nggak ecek-ecek banget itu saya nggak punya gambaran. Jujur, saya nggak punya penulis idola di Malaysia. Saya juga nggak survei dulu sebelum berangkat. Ya sudahlah. Ambil tiga buah yang harganya masing-masing sekitar RM 25-27. Satu judul di antaranya, ada yang saya pernah tahu di web MPH. Satu lainnya sedang on going tayang sinetron. Satu sisanya random saja ambil.

Novel yang diangkat ke sinetron dan on going sekarang ini

Secara fisik, novel Malaysia masih pakai kertas putih, seperti novel-novel Indonesia beberapa tahun lalu. Efeknya, buku terkesan super tebal (apalagi ukurannya agak kecil dibandingkan ukuran novel Indonesia pada umumnya) dan rentan protol (kertas lepas dari lem). Sejauh ini, sudah sekitar 3 hari saya baca salah satunya, saya suka. Satu-dua istilah yang nggak saya paham, tapi entah, saya suka dengan pengalaman baru ini. Harap-harap bisa kembali ke KL buat beli novel. Hahahaha.

Selesai beli novel, saya dan travelmate memutuskan cari nasi lemak di Kampung Baru. Nasi lemak yang saya incar beberapa waktu sebelumnya setelah nonton YouTube berikut.



Jalan kaki dari KLCC Petronas Tower, kami jalan nyaris 2 kilometer demi bisa makan nasi lemak. Itu wish list saya ke KL, sih. Wkwkwkwk. Rasanya sudah pukul 2 lebih apa ya, kami makan nasi lemak. Warungnya kebetulan lengang, jadi makan nggak antre dan terasa nyaman. Seporsi nasi lemak dengan ayam goreng fresh from penggorengan plus segelas es jeruk nipis (limau) sukses mengenyahkan haus dan lapar.

Saat riset, tahun 2018 rata-rata harga nasi RM 3, kemarin sudah RM 4


Ketika sudah kenyang, kami lanjut kembali ke Petronas Tower. Nggak afdhol dong ke KL tapi nggak berfoto dengan background Menara Kembar Petronas ini. Di sana, banyak fotografer yang menawarkan foto wide lens tapi kami nggak berkenan. Cukuplah pakai HP ala kadarnya, serta mengandalkan tongsis. Andai cuaca cerah, tak mendung, mungkin masih oke pencahayaan foto kami.


Upin-Ipin tak ade, entah pula Remy Ishak dan Zul Ariffin
Selepas itu, kami bergeser ke Bukit Bintang. Niat hati ke Jalan Alor untuk kulineran. Namun sayang, hujan keburu datang, bahkan sebelum kami turun dari bus GOKL yang statusnya percuma (gratis maksudnya). Sempat bermenit-menit kami ngemper di teras samping gerai Sephora, sebrang Pavilion, Bukit Bintang. Melihat orang berlalu-lalang dari berbagai macam ras dan kulit, tampaknya mereka penduduk Malaysia yang sedang pulang kerja atau sama-sama pelancong seperti saya dan travelmate.

Keder aja lihat depannya mall orang konglomerat kan ya~~~

Motretnya dari emperan Sephora
Kami mengira hujan akan awet. Mendung di langit seakan nggak mau bergerak pergi. Kami memutuskan mengenakan jas hujan kresek yang kami bawa dari Indonesia. Nekatlah kami menembus gerimis menuju Jalan Alor. Sekian menit setelah menikmati jajanan, ternyata langit cerah. Sisa-sisa air hujan masih membasahi sekeliling. Aromanya berpadu dengan semerbak aroma makanan di sepanjang Jalan Alor.

Suasana Jalan Alor, siap kulineran street food




Saya habiskan nyaris Rp 85 ribu buat sate-satean macam sosis dan brokoli. Hahahaha. Total sih RM 23. Masih tambah es kelapa muda yang sudah diwadahi dalam botol seharga RM 5. Entah murah entah mahal hitungannya, ya ini pertama kali, nggak riset dulu, nggak keliling-keliling cari yang lain pula. Tahunya itu makanan sepertinya enak. Hahahaha.

Makan malam saya yang dibeli di stand yang fotonya di bawah ini

Selepas kenyang makan sate-satean dalam porsi jumbo, kami memutuskan balik hotel. Sudah payah, kena hujan sebelumnya, badan lengket semua. Seharian jalan, naik turun kereta maupun bus, puas. Tapi nggak komplet karena seharian Senin (25/11) aja kami main di KL. Esok harinya sengaja kami jalan-jalan cari oleh-oleh saja tapi sayangnya pasar di Petaling dan Central Market baru buka pukul 10.00. Akhirnya kami balik hotel, check out, bablas cari oleh-oleh di Mydin.



Senang sih sampai KL. Sayang cuma sekejap. Maunya ke Melaka, Putrajaya, Shah Alam, dll seperti rekomendasi kawan-kawan. Apalah daya upaya. Cuti pun terbatas. Budget juga sudah kembang kempis. Kami balik ke Indonesia via Jakarta. Saat pesawat bersiap tinggal landas, saya amati jendela, melihat keluar. Saya membatin, "Saya mau kembali ke sini, Ya Tuhan. Saya merasa nyaman, dan belum tuntas merasakannya."

Kami kembali ke Jogja naik kereta. Stasiun Gambir persinggahan pertama kami setelah dari Bandara Soekarno-Hatta--kami balik Jogja dari stasiun Pasar Senen. Saking laparnya, kami memilih makan dulu di Gambir. Di kedai ala-ala Jepang, kami memusnahkan perut keroncongan. Mata saya menangkap sosok prajurit--nggak yakin dari matra AU, AL, atau AD. Yang jelas tas lorengnya tertulis UN. Rasa takjub menjalar, oh dia pernah merasakan jadi pasukan perdamaian PBB. Ah, sampai kapan melihat tentara cuma sebatas memandang. :p

Tampak muka St. Pasar Senen. Pertama kali saya ke sini.
Perjalanan ke LN pertama (dengan budget sendiri) sudah usai. Alhamdulillah lancar dan yang saya syukuri sekali badan nggak remuk, apalagi situasi sedang datang bulan. Bersyukurnya lagi, nggak mengalami dismenore/nyeri haid berlebihan.

Kalau menengok jauh ke belakang, sebelum saya lahir--berdasar cerita ayah--, dulu ayah hendak jadi TKI ke Malaysia. Semua dokumen dan keperluan sudah ready. Sayang, bude dan mendiang Pakde saya melarang. Gagal sudah impian (yang dirasa ayah) akan menyejahterakan keluarga. Siapa yang mengira, Tuhan lebih memilih anaknya ayah yang ke sana melakukan perjalanan.

Namun saya bersyukur, ayah nggak jadi ke sana. Salah-salah saya nggak pernah mengenal ayah sewaktu kecil gara-gara ditinggal merantau. No offense ya untuk anak-anak yang terpaksa ditinggal merantau orangtuanya. Namun apa pun kondisi dulu dan sekarang, saya coba syukuri. Nggak jarang Gusti Allah nunjukkin hikmahnya.

Jadi, hendak ke mana setelah ini? Perjalanan ini akan berlanjut ke mana? Dan...................

dengan siapa? Wkwkwkwk..................

Siapa next travelmate?










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...