
Tepat satu pekan yang lalu, Senin (25/11), saya memulai pagi menuju Batu Caves. Naik KTM Komuter yang saya lupa berapa harga tiketnya--sebab diuruskan seorang travelmate lewat mesin--, kami duduk di gerbong yang lengang, hanya berisi sekitar 10 orang (termasuk saya dan kawan). Tak sampai 30 menit apa ya, langkah kami dari stasiun Pasar Seni sudah sampai di stasiun Batu Caves.
![]() |
| Koin untuk naik KTM Komuter, untuk LRT berwarna biru |
![]() |
| Belum juga coba yang di Jakarta, kan ya~~~ |
![]() |
| Hari Senin pagi, lengang wisatawan |
Gua di puncak Batu Caves ternyata berisi kuil pula. Di pintu masuknya juga ada pedagang pernak-pernik khas India atau umat Hindu. Atapnya yang (ternyata) masih tinggi menjulang itu bolong, mengizinkan cahaya terang menimpa ruangan gua kala matahari menyapa.
![]() |
| Nampak layaknya air terjun yak? :D |
![]() |
| Isi gua Batu Caves |
![]() |
| Persis di depan pintu masuk setelah anak tangga terakhir paling atas |
Selama ini nggak pernah punya cita-cita jalan-jalan ke luar negeri (LN) hingga suatu hari berkenalan dengan kawan-kawan yang suka traveling. Saya pikir, apa salahnya kalau saya juga jalan-jalan? Apalagi impian dulu sebelum berdikari (duit nggak minta-minta orangtua), saya mau melakukan apa pun yang saya pengen kelak sudah berpenghasilan sendiri. Pelan-pelan keinginan jalan-jalan ada tapi nggak punya bucket list harus ke mana--bahkan hingga detik ini.
![]() |
| Ogah niruin gayanya Yuna, beda ukuran bodi, nanti fail :/ |
Persis ketika ke Malaysia ini. Akhir 2018 sih pengennya traveling solo ke Bali. Sampai-sampai survei tanya sana-sini. Ealah, mung wacana. Sebab, saya memang nggak doing something untuk mewujudkan target itu. Hingga akhirnya pertengahan 2019 bucin-bucinnya sama sinetron Malaysia. Merembet suka sama beberapa lagunya, dan berkeinginan baca novel lokalnya (sebab banyak novel lokal Malaysia diangkat ke sinetron, termasuk yang pernah saya tonton).
Gayung bersambut, ternyata travelmate saya yang juga kawan kantor, berkeinginan ke sana pula. Sama-sama newbie traveling ke LN dengan budget pribadi, akhirnya kami merancang perjalanan. Sekitar Agustus atau September 2019, kami getol cari tiket pesawat murah. Singkat cerita, akhirnya kami dapat pesawat murah dari Jakarta. Rela-rela deh dari Jogja naik kereta ke Jakarta.
Alhamdulillah, semua berjalan lancar sekalipun sempat refund pesanan hotel gara-gara saya baca reviewnya yang bekas orang tewas (entah bunuh diri atau dibunuh) dan jadwal pesawat yang mundur dua kali sehingga hari pertama kami habis di pesawat dan imigrasi KLIA 1 hingga nyaris tengah malam. Iya, sampai hotel di Pasar Seni sudah nyaris jam 12 malam. Sempet keder juga ketemu gelandangan atau agak-agak gangguan psikis yang ngagetin kami jalan di kegelapan dari stasiun ke hotel. Belum lagi 'ketipu' agen travel yang ngasih info di deskripsi kamar yang kami pesan private bathroom, ternyata shared bathroom. Tapi alhamdulillah aman dan nyaman. Kami di hotel pun hanya malam hari lalu paginya langsung cus-cus aja.
![]() |
| Teras hotel tempat kami menginap. Sensasinya di kamar kayak kamar kos-kosan. Huhuhu. |
Saya ini bukanlah orang yang pandai mencari/mendapatkan makna setiap apa yang saya alami/temui. Nggak ada niat pun menjadi motivator yang menerjemahkan momen traveling ke dalam kutipan-kutipan bijak. Namun saya suka menemukan/mengalami hal baru--meski kadang cemas karena sensasi shocknya terasa. Yah, sekalian memakmurkan dunia per-Instagram-an boleh lah ya~~~
Foto-foto di Batu Caves juga sudah menghiasi Instagram saya. Wkwkwkwk. Mayan kan... Selepas dari Batu Caves, kami kembali ke KL Sentral, pusat segala macam transportasi yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain di kota KL.
![]() |
| Muka KL Sentral, ada halte GOKL (yang gratis ke mana-mana) |
Saya bingung beli novel yang mana sewaktu di depan rak-rak khusus novel. Ya, saya cari novel romance, tapi cari yang oke dan nggak ecek-ecek banget itu saya nggak punya gambaran. Jujur, saya nggak punya penulis idola di Malaysia. Saya juga nggak survei dulu sebelum berangkat. Ya sudahlah. Ambil tiga buah yang harganya masing-masing sekitar RM 25-27. Satu judul di antaranya, ada yang saya pernah tahu di web MPH. Satu lainnya sedang on going tayang sinetron. Satu sisanya random saja ambil.
![]() |
| Novel yang diangkat ke sinetron dan on going sekarang ini |
Secara fisik, novel Malaysia masih pakai kertas putih, seperti novel-novel Indonesia beberapa tahun lalu. Efeknya, buku terkesan super tebal (apalagi ukurannya agak kecil dibandingkan ukuran novel Indonesia pada umumnya) dan rentan protol (kertas lepas dari lem). Sejauh ini, sudah sekitar 3 hari saya baca salah satunya, saya suka. Satu-dua istilah yang nggak saya paham, tapi entah, saya suka dengan pengalaman baru ini. Harap-harap bisa kembali ke KL buat beli novel. Hahahaha.
Selesai beli novel, saya dan travelmate memutuskan cari nasi lemak di Kampung Baru. Nasi lemak yang saya incar beberapa waktu sebelumnya setelah nonton YouTube berikut.
Jalan kaki dari KLCC Petronas Tower, kami jalan nyaris 2 kilometer demi bisa makan nasi lemak. Itu wish list saya ke KL, sih. Wkwkwkwk. Rasanya sudah pukul 2 lebih apa ya, kami makan nasi lemak. Warungnya kebetulan lengang, jadi makan nggak antre dan terasa nyaman. Seporsi nasi lemak dengan ayam goreng fresh from penggorengan plus segelas es jeruk nipis (limau) sukses mengenyahkan haus dan lapar.
![]() |
| Saat riset, tahun 2018 rata-rata harga nasi RM 3, kemarin sudah RM 4 |
Ketika sudah kenyang, kami lanjut kembali ke Petronas Tower. Nggak afdhol dong ke KL tapi nggak berfoto dengan background Menara Kembar Petronas ini. Di sana, banyak fotografer yang menawarkan foto wide lens tapi kami nggak berkenan. Cukuplah pakai HP ala kadarnya, serta mengandalkan tongsis. Andai cuaca cerah, tak mendung, mungkin masih oke pencahayaan foto kami.
![]() |
| Upin-Ipin tak ade, entah pula Remy Ishak dan Zul Ariffin |
![]() |
| Keder aja lihat depannya mall orang konglomerat kan ya~~~ |
![]() |
| Motretnya dari emperan Sephora |
![]() |
| Suasana Jalan Alor, siap kulineran street food |
![]() |
| Makan malam saya yang dibeli di stand yang fotonya di bawah ini |
Selepas kenyang makan sate-satean dalam porsi jumbo, kami memutuskan balik hotel. Sudah payah, kena hujan sebelumnya, badan lengket semua. Seharian jalan, naik turun kereta maupun bus, puas. Tapi nggak komplet karena seharian Senin (25/11) aja kami main di KL. Esok harinya sengaja kami jalan-jalan cari oleh-oleh saja tapi sayangnya pasar di Petaling dan Central Market baru buka pukul 10.00. Akhirnya kami balik hotel, check out, bablas cari oleh-oleh di Mydin.
Senang sih sampai KL. Sayang cuma sekejap. Maunya ke Melaka, Putrajaya, Shah Alam, dll seperti rekomendasi kawan-kawan. Apalah daya upaya. Cuti pun terbatas. Budget juga sudah kembang kempis. Kami balik ke Indonesia via Jakarta. Saat pesawat bersiap tinggal landas, saya amati jendela, melihat keluar. Saya membatin, "Saya mau kembali ke sini, Ya Tuhan. Saya merasa nyaman, dan belum tuntas merasakannya."
Kami kembali ke Jogja naik kereta. Stasiun Gambir persinggahan pertama kami setelah dari Bandara Soekarno-Hatta--kami balik Jogja dari stasiun Pasar Senen. Saking laparnya, kami memilih makan dulu di Gambir. Di kedai ala-ala Jepang, kami memusnahkan perut keroncongan. Mata saya menangkap sosok prajurit--nggak yakin dari matra AU, AL, atau AD. Yang jelas tas lorengnya tertulis UN. Rasa takjub menjalar, oh dia pernah merasakan jadi pasukan perdamaian PBB. Ah, sampai kapan melihat tentara cuma sebatas memandang. :p
![]() |
| Tampak muka St. Pasar Senen. Pertama kali saya ke sini. |
Kalau menengok jauh ke belakang, sebelum saya lahir--berdasar cerita ayah--, dulu ayah hendak jadi TKI ke Malaysia. Semua dokumen dan keperluan sudah ready. Sayang, bude dan mendiang Pakde saya melarang. Gagal sudah impian (yang dirasa ayah) akan menyejahterakan keluarga. Siapa yang mengira, Tuhan lebih memilih anaknya ayah yang ke sana melakukan perjalanan.
Namun saya bersyukur, ayah nggak jadi ke sana. Salah-salah saya nggak pernah mengenal ayah sewaktu kecil gara-gara ditinggal merantau. No offense ya untuk anak-anak yang terpaksa ditinggal merantau orangtuanya. Namun apa pun kondisi dulu dan sekarang, saya coba syukuri. Nggak jarang Gusti Allah nunjukkin hikmahnya.
Jadi, hendak ke mana setelah ini? Perjalanan ini akan berlanjut ke mana? Dan...................
dengan siapa? Wkwkwkwk..................
![]() |
| Siapa next travelmate? |

























Komentar
Posting Komentar