![]() |
| Pak Gio, pedagang tempe keliling legendaris se-Gadungan Raya :D |
Bermula dari niatan (nya sih) rajin nulis (random) di blog, seperti kawan-kawan kiri-kanan, tercetus ide menulis topik ini. Yah, sekalian mengenang masa kecil. Masa yang membuat saya nggak pusing dan khawatir seperti dewasa ini.
Dulu pengen banget segera dewasa. Suatu hari, saya mengucapkan itu dengan lantang dan penuh semangat kepada ayah, yang berdiri di ambang pintu rumah, sementara saya duduk di buk/bok (bangku dari semen dan batu bata) halaman rumah.
"Yah, sekarang aku kelas satu, nanti dua, tiga, empat, lima, enam, terus SMP satu, dua, tiga, lalu SMA satu, dua, tiga, terus lulus, gede deh," cerocos saya waktu itu dalam bahasa Jawa. Tepatnya setelah ngobrol dengan tetangga saya, Mas Erik, yang sudah kelas 5 atau 6 SD waktu itu. Kami satu sekolah.
via GIPHY
Huft... setelah dewasa itu datang, saya malah pengen mengerem itu, minimal. Karena, balik ke masa anak-anak lebih mustahil dari mengerem laju pertambahan usia. Sayangnya, dua-duanya jelas nggak mungkin.
via GIPHY
Salah satu yang ingin saya simpan dan baca ulang ketika menua (sekarang juga udah menuju tua sih 😂), adalah sosok-sosok pedagang yang memorable banget. Mereka menghiasi masa kecil saya di desa. Ada yang sudah meninggal, ada yang entah bagaimana kabarnya, ada yang masih sehat hingga sekarang.
1. Mbah Mul.
Ah, andai saya pandai menggambar, sudah pasti tergambar detail gimana sosoknya dan gerobak cukup besar yang didorongnya setiap menjelang sore.
Perawakannya kurus, rambutnya lurus pendek agak belah pinggir--jika nggak salah ingat. Kulitnya sawo (sangat) matang. Kayuhannya tampak ringkih, malah kadang didorong gerobaknya dengan jalan kaki.
Gerobaknya itu jika diibaratkan sebesar gerobak penjual angkringan di Jogja, ya seperti itu, lengkap dengan atap penutupnya.
Saya nggak tahu rumahnya di mana, tapi tampaknya jauh dari rumah saya. Perjalanan yang ditempuh Mbah Mul juga sepertinya berkilo-kilo jauhnya.
Dagangan Mbah Mul bermacam-macam. Jajanan lawas 90-an, gorengan, rokok, es, mainan anak-anak murah meriah, dan... ah lupa apa saja detailnya. Beliau ini langganan keluarga saya ngemil, dan ayah beli rokok bijian.
Suatu ketika ada kehebohan yang melibatkan Mbah Mul. Saya berjalan menghampiri beliau, menyeberang jalan besar di depan rumah saya. Eh, adik saya, lupa Adi atau Agung waktu itu, yang baru lancar berjalan, menerobos pagar kayu depan rumah dan nyelonong nyebrang. Bikin pengendara motor waktu itu syok.
Mbah Mul... ibuk bilang beliau sudah tiada. Bisa masuk di akal karena sewaktu saya kecil, mungkin TK atau SD awal kala itu, beliau sudah sepuh. Namun bicaranya masih ethes, jelas.
Kalau masih diberi umur, semoga Mbah Mul selalu sehat. Jika memang sudah kembali ke Gusti Allah, semoga diberi tempat terbaik dan dibebaskan dari siksa kubur, serta diberi keselamatan di kehidupan-kehidupan selanjutnya.
2. Pak Pri bakso.
Begitulah saya menyebut pria berkumis yang selalu tampak bersemangat setiap selepas magrib/isya menjajakan bakso dagangannya. Bahkan nggak peduli hujan rintik-rintik membasahinya.
Dengan berpakaian hem dan celana kain panjang, pria bertubuh kurus dan tinggi tak terlalu menjulang itu mendorong gerobak bakso warna putih/kuning gading.
Langganan sejak kecil, membuat saya selalu teringat beliau ketika beli bakso, saus/kecap/sambalnya ditaruh di cawan/lepek.
Sudah bertahun-tahun Pak Pri bakso tak terlihat, bahkan saat saya masih jadi pengangguran di rumah beberapa tahun lalu. Ketika kuliah, rasanya juga sudah nggak ada kalau lagi pulang kampung. Saya sampai lupa kapan terakhir bertemu beliau.
Pak Pri bakso, semoga selalu sehat dan panjang umur di mana pun berada, nggih.
3. Mbah Mi.
Perawakannya ginuk-ginuk, mungil. Beliau lah pedagang di 'kantin' SD saya sekolah. Saya sempat menitipkan jambu hasil panen sendiri di warung beliau.
Makanan yang sering saya beli di Mbah Mi itu nasi pecel ala kadarnya, opak sermier, lalu jajanan-jajanan 90-an. Bermodal uang saku Rp 100 zaman dulu saat kelas 1, lalu ke Rp 300-an ketika naik ke kelas lebih tinggi, saya habiskan di kantin Mbah Mi.
Mbah Mi sudah lama berpulang pada Sang Khaliq. Semoga bahagia di sisi Gusti Allah nggih, Mbah...
4. Lek Juki.
Orang satu ini nyentrik dengan celana jins, kaus polo, dan kacamata hitamnya saat berjualan aneka jajan, es tong-tong, dan mainan anak-anak di kawasan TK dan SD dekat Balai Desa Gadungan. Ah, sama topi juga.
Lek Juki ini pedagang legendaris dari masa ke masa. Saya dan kedua adik saya langganan jajan pada beliau, terutama saat kami masih TK. Entah apa kabarnya sekarang. Saya sudah nggak pernah bersua beliau. Sehat-sehat dan panjang umur nggih, Lek...
5. Pedagang bakso tusuk (pentol).
Suer, saya nggak tahu siapa namanya. Namun bapaknya ini legendaris banget jualan bakso tusuk di SD maupun belakangan keliling, bahkan lewat depan rumah saya selepas magrib.
Harga pentolnya murah meriah. Rp 100-an atau berapa ya dulu per biji. Enak banget baksonya. Langganan saya dan teman-teman, bahkan adik-adik saya.
Orangnya tinggi menjulang, wajahnya agak-agak ada Arab/India-nya ya (?), kumisan, sering banget pakai kemeja hem kotak-kotak dengan lengan agak ditekuk sedikit.
Gerobaknya kecil di boncengan sepeda ontel. Warna gerobaknya, yang sepertinya dari seng, merah. Ada payung yang disambung kayu di antara boncengan dengan sadel, guna melindungi si bapak dan gerobaknya dari panas dan hujan.
Konon dia ayahnya temannya teman SD saya. Sepertinya sekarang beliau masih aktif jualan bakso tusuk. Sehat-sehat ya, Pak...
6. Pak Kemi.
![]() |
| source |
Siapa beliau? Beliau adalah pahlawan yang selalu membawa kerupuk buat keluarga saya setiap pagi. Paginya berbarengan saya berangkat sekolah gitu, jam-jam 7-an.
Karena langganan, setiap hari Pak Kemi auto mandek dan mampir membawakan kerupuk sampai ke pintu rumah. Lalu nanti ibuk memberikan uangnya.
Kini, posisi Pak Kemi digeser bapak2 lain yang ternyata sama-sama legend-nya dengan Pak Kemi. Nggak tahu pasti kenapa ibuk dan ayah memutuskan ganti pedagang. :D Ah, yang penting kerupuk tetap ada di rumah saat makan tiba.
Dan, Pak Kemi yang mirip (Mbah) Bang Haji, semoga sehat selalu, serta panjang umur. Beliau ini masih setia mengayuh sepedanya dengan wadah besar yang dibonceng di belakang berisi kerupuk-kerupuk dagangannya.
7. Pak Gio.
Bacanya Giyo, ya...buka jiyo... Hahaha... Menurut saya, Pak Gio ini karismatik. Dengan topi fedora andalannya, beliau menjajakan dagangan tempe mentah. Pengrajin tempe ini menjajakannya sendiri. Kalau berhalangan, biasanya digantikan si anak. Tapi dari dulu saya kecil hingga sekarang, hampir selalu Pak Giyo.
![]() |
| Pak Gio dari belakang, diem-diem ambil fotonya :') |
Kalau dulu sepeda ontel, sekarang Pak Giyo jualan mengendarai motor. Dua gerobak dibonceng, yang berisi tempe-tempe buatannya. Sekarang ini, ibuk sering beli tempe Rp 1.000-2.000 buat sehari. Nggak banyak tapi cukuplah buat lauk 2-3x makan, dengan irisan tipis-tipis. Hahaha.....
Itu tadi sosok-sosok pedagang paling membekas di ingatan saya, yang setiap hari (dulu) saya temui. Sosok-sosok yang menjadi bagian masa lalu menentramkan, aman, nyaman--setidaknya demikian bila dibandingkan sekarang.
Oh, bukan karena saya nggak bersyukur dengan masa sekarang. Hanya saja, kerinduan masa kecil kerap menghantui. Saya mau mengabadikannya selagi bisa. :').



Komentar
Posting Komentar