Langsung ke konten utama

Ongakan Besowo, bukit apik dijadikan sejoli abadikan kisah kasih


Click bait bener ya judulnya? :D

Anggap saja Bukit Ongakan di Besowo, Kepung, Kediri, memang tempatnya orang pacaran. Jalan-jalan sama pacar, menghabiskan waktu bersama di sini. Mungkin itu juga terwakili tulisan berupa sayatan di kulit pohon atau tulisan di papan-papan untuk duduk menikmati panorama asri nan menentramkan di puncak Ongakan.

Tulisan-tulisan cinta atau nama X dan Y yang biasanya kamu temui di kursi, dinding, atau pepohonan objek wisata umum, ada di sini. Namun saya nggak termasuk pelakunya. Dan, tulisan ini nggak mengisahkan apa pun tentang romantisme orang pacaran, kok. Murni cerita pengalaman short escape saya ketika pulang kampung.

Berangkat dari rumah yang letaknya mungkin nyaris 20 km kali ya, sekitar pukul 06.00 WIB, saya dan adik, Adi, berniat main ke waduk Siman. Namun niat hati membelok menuju tempat yang lebih tinggi dan konon menawarkan keindahan alam.

Ya, Ongakan memang ngehits beberapa waktu lalu. Kabar ini tersebar dari mulut ke mulut maupun nongol di explore Instagram. Sayangnya waktu itu, kedua adik saya 'mencurangi' saya.

Mereka, Adi dan Agung, berangkat sunrise-an ke Ongakan. Giliran saya ngajak salah satunya, mereka emoh. Berbulan-bulan berikutnya, baru keinginan itu kesampaian. Kemarin itu, Senin 4 Februari 2019. Saat saya pulang kampung setelah sekitar 4 bulan nggak menebus rindu dengan orang rumah.

Untungnya sih begitu. Soalnya setelah mengetahui medannya, saya nggak bisa ngebayangin bakal bener-bener berani. Jalannya selepas dari pemukiman warga Besowo, nggak banget. Tanah berpasir, lalu ada yang semacam ambles membentuk alur (kemungkinan besar akibat aliran air hujan), dan melewati hutan belantara.


Lama-lama menembus ladang dan hutan, saya merasa seperti memasuki dunia antah berantah. Sesekali kami berpapasan dengan warga setempat yang pergi ke ladang atau balik motoran membonceng tumpukan rumput untuk pakan ternak. Namun semakin ke atas, semakin sepi. Nggak kebayang creepy-nya suasana saat Adi dan Agung berangkat gelap dan menembus dinginnya udara kala itu.

Sunyi suara manusia dan mesin, kecuali saya, Adi, dan motor matic milik Agung. Namun bising suara alam. Khas hutan, ladang. Mungkin suara jangkrik atau hewan serangga lainnya. Rasanya asing tapi lega bukan main.

Ah, saya sok seperti orang metropolitan atau megapolitan yang stres dengan kebisingan kota, yang bertandang ke alam perawan. Namun, berkunjung ke tempat yang super hijau, adem, sang surya nggak malu-malu menampakkan keceriaan, langit biru, serta embusan angin sesekali, membuat saya merasa ... apa ya... menjalani detoks (tipis-tipis, sih)? Yah... akhir-akhir ini saya mengalami kebosanan parah dan kemalasan akut. Saya merasa butuh break sejenak. Untunglah Adi punya ide ke Ongakan. Spontan.

Selama motoran menuju puncak Ongakan, beberapa kali saya harus turun dari motor karena tanjakan atau pasir yang membuat motor hampir terpeleset dan oleng. Paham banget. Selain medan yang agak-agak susah, bobot badan saya dan Adi bisa saja memengaruhi yaa, hahaha. Namun syukurnya kami nggak bener-bener jatuh.


Beberapa kali pula kami berhenti setiap ada spot yang sekiranya Instagenic. Biasalah ya... demi update foto profil medsos minimal. Hahaha. Mau di tengah hutan, di tepian jurang, maupun di spot dengan background yang konon disebut Bukit Kura-kura Gunung Kelud, kami mengambil foto sebanyak mungkin, dengan segala macam pose. Ada nih salah satu spot menuju puncak Ongakan yang bagus. Asal angle dan yang ngambil foto terampil, sih. Hahaha.

Hasil foto yang diambil Adi ini oke banget. Dia lebih punya insting bagus soal angle dan pengambilan foto sih. Sementara saya sering diprotes saat memotretnya. Sorry, Bro!


Nah, saat kami sampai di area tempat berjualan dan spot-spot selfie/foto yang dekat sekali dengan puncak Ongakan, saya agak-agak kebelet buang air kecil (BAK). Selesai memarkir motor, kami berjalan ke toilet yang ternyata memberi harapan palsu. Kran air nggak mengeluarkan air. Keinginan BAK saya tahan.

Kami pun mengamati sekitar. Lokasi masih sepi.

"Mungkin belum buka, Mbak. Ini masih belum ada jam 8, kan?" celetuk Adi menduga-duga.

Hanya kami berdua manusia di situ, yang memandangi warung-warung di sana, tampak tak terurus. Atap warung ada yang roboh. Pasir yang mengering bekas kehujanan tersebar di atas lantai warung yang lain. Kami berkesimpulan, Ongakan tak lagi diperhatikan. Apalagi saat melewati sebuah gapura semacam pintu masuk ke wisata Ongakan, juga nggak dijaga. Artinya, kami masuk gratis.

Ah, tapi saya baru kali pertama ke situ. Kami datang juga hari Senin, waktunya orang sibuk kerja dan sekolah. Pernyataan 'nggak lagi keurus' mungkin (dan semoga) nggak benar. Mungkin di warung yang kami lewati saja yang begitu. Bukan di sisi lain yang agak jauh dari kami. Namun menurut Adi, kondisi Ongakan sekarang nggak seperti dia berkunjung bareng Agung dulu.

Melewati spot tersebut, kami berjalan mendaki menuju puncak Ongakan. Saya sempat memvideokan perjalanan ini. Ala-ala vlogger gitu, deh. Hahaha. Namun nggak banyak dan nggak bagus. Memang amatir.

Ah, lama saya nggak mendaki bukit. Terakhir ke Bukit Tidar di Magelang. Beda dengan Bukit Tidar yang memiliki tangga-tangga menuju puncak, Ongakan nggak demikian.

Jalur menuju puncak Ongakan tanah dengan rerumputan atau bunga di kanan-kirinya. Ada yang permukaannya rata, berpasir, berkerikil, atau di sisi kanan atau kirinya  ambles yang kemungkinan besar karena aliran air hujan dari atas. Saya sempat nyaris terpeleset. Adi selalu siap siaga. Mendorong ketika saya lama berhenti, atau menahan tubuh saya kalau mau nggeblak (jatuh ke belakang). Hahaha.

Kesalahan kami ke sana adalah nggak bawa bekal minum atau camilan. Jalan ngos-ngosan. Perut belum diiisi. Namun itu juga keuntungan buat saya karena jadi nggak beser. Hohoho. Sensasi BAK menghilang kala itu. Berganti keroncongan perut tapi silih berganti kerasa dan nggaknya.

Sampai di puncak, wooohhh... surga. Terakhir saya merasakan sensasi keindahan di puncak bukit itu saat di Gunung Purba Nglanggeran sekitar 2-3 tahun lalu.

Beda dengan puncak (bener-bener titik puncaknya yang kalau tidak salah ada tiang bendera juga) Nglanggeran yang gundul berbatu, puncak Ongakan hijau asri. Ada pohon yang berdiri gagah dengan bendera merah putih terikat di ujung atasnya. Kaki pohon itu dikelilingi papan yang menempel guna pengunjung duduk-duduk menikmati pemandangan sekitar Ongakan.


Sejauh mata memandang, sudah tampak waduk Selorejo yang masuk kawasan Ngantang, Malang. Di sini, waktu itu,  angin tak lagi sepoi-sepoi, melainkan berembus lebih kencang.


Nggak ingin melewatkan kesempatan berfoto, saya dan Adi mulai saling memotret maupun selfie bersama setelah sempat ngos-ngosan mendaki. Saat menaiki papan, kami harus berhati-hati mengingat ada papan yang jebol atau rapuh karena lapuk.

Di puncak sini juga ada beberapa tulisan imbauan seperti jam berapa sudah harus turun demi menghindari cuaca buruk, larangan berteduh di bawah papan yang jadi spot foto ketika hujan, dan sebagainya.

Gimana rasanya di puncak Ongakan?

S.E.G.E.R.

Bisa cek video singkat saya ini.




Hidden paradise (?) ๐Ÿ”น Bising suara alam. Kicauan burung, embusan angin, dan panorama yang nyegerin mata serta rongga dada. Meski ntah berapa lama ga dirawat lagi, #ongakan #besowo #kepung masih menawarkan pesona yg bikin mulut (sa) menganga (termasuk jg krn saking lama ga piknik ๐Ÿ˜ญ) ๐Ÿ”น Dari sini, bukit kura2 #gunungkelud kelihatan jelas. Waduk Selorejo, Ngantang, Malang juga kelihatan sejauh mata memandang. ๐Ÿ”น Karena datang pas musim hujan, jadi pepohonan dan rerumputan ijo royo2 menguarkan bau semesta yg mantap. ๐Ÿ”น Soal akses jalan deket2 sini? Seru!!! Ditambah dikit2 agak oleng. ๐Ÿ™ƒ ๐Ÿ”น #explorekediri #pesonaindonesia #nature #naturelovers #landscape #livelifetothefullest #livethelittlethings #beautifullandscape #scenery #scenicview #wonderfulindonesia #mountview #mountscenery
A post shared by ษ‘ึีดีิตรญีฒาฝ (@agustine_w) on


Serba hijau. Langit biru berhias tumpukan awan di beberapa sisi. Lekukan lereng Gunung Kelud terpampang nyata. Sungguh menggemaskan lekukannya. Jadi inget lekukan lereng atau kaki Gunung Merapi, Bromo, atau Tambora yang pernah saya lihat di foto-foto internet.



Setelah beberapa menit di puncak, duduk, ngobrol, sambil foto-foto, kami memutuskan turun. Sensasi ingin BAK kembali nyolek saya. Saya berdoa semoga bisa ngempet sampai rumah. Huhuhu.


Ternyata saat turun menghampiri motor yang terparkir tak jauh dari warung-warung tadi, lokasi ini tetap sepiiii. Nggak ada tanda-tanda kehidupan manusia selain saya dan Adi. Eh, beberapa hari berikutnya setelah saya ngepost di medsos, seorang kawan bilang harusnya ada pedagang kopi terkenal di sana. Namanya Mbah Jaimun. Kata kawan saya, beliau ini konsisten jualan kopi baik saat Ongakan sepi maupun ramai. Namun saat kami ke sana, benar-benar sepi, nggak ada orang.

Ketika turun, kami melewati jalur yang berbeda dari saat berangkat. Masih melewati hutan dan ladang. Kali ini lebih banyak petani yang ada di sana. Saat berpapasan, kami dan warga setempat saling melempar senyum dan sapaan.

"Nggak seperti di kota ya, Mbak. Orang di daerah ramah-ramah," cetus Adi.

Bisa jadi memang benar. Kalau balik ke kota, sisi individualisme lebih kerasa. Saya pun melakukannya dalam beberapa hal. Hahaha. Namun kalau sudah balik kampung, mau nggak mau harus menyingkirkannya.

Obrolan saya dan Adi selama turun bukit lebih serius. Adik pertama saya ini menceritakan cita-cita mulianya. Cita-cita yang sempat menjadi kegelisahan dan keinginan saya juga. Adi menceritakan bagaimana dia nanti akan mengabdi di pulau seberang sana, Indonesia Timur, tentang keinginan memberdayakan lahan di rumah, dan banyak lagi. Intinya, ingin membanggakan ayah dan ibu.

Terima kasih, Ya Gusti Allah, adik-adik saya tumbuh jadi pemuda yang punya hati, welas asih, dan tanggung jawab. Ya, Agung pun juga punya sisi positif yang mungkin saya nggak rela/akan melakukannya. Terima kasih, Gusti. Mereka inspirasi saya memperbaiki diri.

Jadilah pribadi yang lebih baik lagi ke depannya ya, tole berdua. Seperti nama kalian, Adi, Agung, yang berarti baik, anugerah, besar, mulia, hebat... saya yakin kalian akan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi semesta. *Kan... jadi melooo..

Maap motor bagus Agung uji tahan banting ke Ongakan :D
Ya, begitulah... kunjungan ke Ongakan kemarin memberi pesan pada saya, bahwa kalau belum kesampaian sebuah keinginan pada suatu waktu, yakin saja nanti juga kesampaian. Mau hasilnya sama persis atau nggak, nikmati saja. :)




Kemampuan sangat amatir tp keinginan ga bisa disetir. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™ | ๐Ÿ“Ongakan, Besowo, Kepung, Kediri. Sebelahan sama Selorejo, Ngantang, Malang dan Bukit Kura2 G.Kelud ๐Ÿ”น Beberapa waktu lalu jd spot buruan banyak orang krn lagi banyak demam spot2 bagus kayak hutan pinus di Jogja dskt/tempat2 Insta-worthy lain, sekarang bahkan tempat2 jualannya dan toiletnya yg ga jauh dari bukit, terbengkalai. ๐Ÿ’”. ๐Ÿ”น Jalannya sulit. Lewatin hutan, ladang2, tanah jalannya berlubang (lebih ke rada2 ambles krn air hujan juga mungkin), ada yg berpasir, ada yg menanjak. Motoran kudu hati2. Diharapkan bener2 yg tatag motoran. Kalo amatir macem sa, mending sendiri, jangan mbonceng. Itu pun kalo ga ngerasa horor motoran sendiri. Soalnya sepanjang jalan masuk kawasan hutannya sepiiii kek tempat antah berantah. Palingan beberapa kali ngelewatin ladang, papasan sama warga yg lagi ke ladang atau angkut rumput. ๐Ÿ”น Sampe deket puncaknya, ga jauh dr tempat jualan2, jalan kaki mendaki. Jalannya tanah berpasir sekaligus berkerikil. Ada yg terbelah juga, semacam rada2 ambles. Papan2 yg jd spot leyeh2 atau bahkan foto2 udah lapuk di beberapa sisinya. ๐Ÿ”น Jadiiii, kalo mau ke sini, hati2, bawa bekal minum biar nggak kehausan, pakai baju nyaman, lalu info aja kalo mau BAK apalagi BAB, toiletnya airnya mati ๐Ÿ˜ญ kemarin sampe sana sekitar jam 7.30an, keran dalam posisi kebuka tp air ga keluar. Sedih ๐Ÿ’” Tapi tempat ini masih oke buat melipir yg rindu alam. Duduk2 santai, lihatin langit biru, lihatin burung/capung/dkk beterbangan, sambil nikmatin angin segar. ๐Ÿ‘ GRATIS!!! Ntah kalo kemarin2 pas dikelola rutin bayar berapa. ๐Ÿ”น ๐ŸŽถ Sales - Chinese New Year
A post shared by ษ‘ึีดีิตรญีฒาฝ (@agustine_w) on

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...