Langsung ke konten utama

Review buku: Like Water for Chocolate, kaya resep kaya drama


Butuh 22 tahun menyatukan dua hati yang terpisah karena tradisi tak masuk di akal. Bisa tahan menunggu selama itu? Tita dan Pedro memberimu jawabannya.

Judul Buku: Like Water for Chocolate (terjemahan), Como Agua para Chocolate (asli)
Penulis: Laura Esquivel
Jenis Buku: Fiksi
Penerbit: Bentang
Cetakan: Cetakan Pertama, Agustus 2018
Tebal: vi +258

Tita dan Pedro sempat terpaksa merelakan hubungan mereka kandas karena tradisi konyol. Apa itu?

Anak gadis bungsu DILARANG menikah. Hanya boleh merawat ibunya sampai tiada. Inilah yang dialami Tita. Belum cukup sampai di situ. Lukanya semakin perih saat harus melepas pria yang dicintai menikahi kakak tertuanya, Rosaura, atas titah sang ibu, Mama Elena. Jujur, saya auto kesel banget sama drama keluarga ini.

Saya jadi teringat waktu ibu saya menceritakan saudara seorang tetangga. Adiknya dan seorang cowok sudah saling taksir. Tapi entah karena apa, si orangtua menjodohkan si cowok dengan sang kakak. Sementara si adik dijodohkan dengan seorang perwira tinggi polisi. Saat itu saya sempat ikutan kesel. Adiknya yang naksir kok nikahnya sama si kakak. Tapi konon semenjak menikah dengan perwira tinggi polisi itu, hidupnya malah semakin makmur. Wallahi. Ini bukti, bukan Tita saja yang mengalami, di dunia nyata juga ada. Dengan cerita yang hampir serupa.

Drama keluarga Tita sungguh pelik. Tradisi konyol (buat saya begitu) melarang anak menikah, mencari kebahagiaan sendiri, berganti dengan upaya disuruh mengabdikan diri pada ibunda. Benar-benar mengabdikan diri layaknya budak (?).

Eits, kalau kamu yang baca ini mau berkilah, "Lho memangnya apa salahnya mengabdi sama orangtua, dalam hal ini ibu?" Nggak salah sih.. tapi Mama Elena di sini buat saya agak-agak 'sakit'.

Batin saya, "Gila aja melarang Tita nikah, melayani dia seumur hidup. Ibu macam apa sama anak kejam begitu?!". Iya, soalnya sejak lama Tita sudah dilarang ini-itu, dan diarahkan hanya mengurusi urusan domestik rumah tangga saja. Sayangnya, alasan mendetail Mama Elena bersikap demikian tak diungkap. Biasa, ketika ada tokoh yang 'sakit' begitu, saya selalu bertanya-tanya "Adakah pengalaman traumatis? Harusnya ada penyebabnya". Memang sempat dibahas masa lalu Mama Elena tapi detailnya tak diungkap.

Kekejaman Mama Elena ternyata bukan hanya pada anak bungsunya, melainkan juga Gertrudis, kakak Tita yang lari bersama pria pujaan dalam kondisi nirbusana. Novel ini memang ada sisi erotisnya. Selain itu juga ada bumbu-bumbu magis. Contohnya ya Gertrudis ini, sewaktu mau mandi (kalau tidak salah ingat saya), aroma-aroma wangi terbang menuju Juan, pria pujaannya yang merupakan pentolan tentara revolusi (setting waktunya lebih banyak pada zaman-zaman revolusi di Amerika Latin, novel ini sendiri novel Meksiko). Juan otomatis terbawa menunggang kudanya menghampiri Gertrudis.

Masih banyak sisi-sisi magis dalam novel ini, yang agak-agak susah masuk di akal. Hingga akhirnya seakan harus menerima "Ya itulah magis". Cukup dibaca dan mendapat anggukan kepala. Seperti bagian arwah Mama Elena yang meneror Tita. Atau jauh sebelum si Mama Elena mati, dia mengonsumsi masakan (atau resep obat ya?) buatan Tita, dan merasa tidak enak. Mama Elena menuding anaknya sendiri hendak mencelakakan dirinya. Padahal Tita nggak melakukan apa pun.

Bukan cuma Mama Elena yang mengalami hal serupa, Rosaura juga. Otak saya mengambil kesimpulan, inilah sisi magis kalau orang jahat bakal celaka dengan sendirinya tanpa harus tokoh protagonis melakukan apa pun. Sisi magis juga memungkasi riwayat hidup Tita pada ending novel ini.

Keunikan novel Like Water for Chocolate yang mencolok dari awal adalah adanya resep di setiap bab, termasuk bahan-bahan yang diperlukan. Bukan hanya resep makanan yang memang keahlian Tita, melainkan juga resep non makanan misalnya ramuan mengusir bau ruangan maupun cara membuat korek api. Kerennya, walaupun resep (makanan) ditulis mengawali setiap bab, pembaca dibawa mengalir masuk ke cerita si tokoh.




Novel ini membuat pembaca bertahan membalik halaman demi halaman, menyimak setiap cerita. Walaupun sisi romansnya nggak gereget (maklum suka novel-novel terjemahan historical romance :D). Saya pikir, Tita akan memiliki kehidupan menggairahkan dengan dokter John, mengingat Pedro sudah meninggalkannya untuk menikahi Rosaura.

Ya, walaupun Pedro dulu berdalih menikahi Rosaura demi lebih dekat dengan Tita, tetap saja cara itu nggak banget. Sekali lagi, K O N Y O L . Itu ulah Mama Elena! Andai jadi Tita, kalau ada orang lain sebaik, secerdas, dan sebermartabat dokter John, ya ke dokter inilah. Hehehe. Saya juga merasa antipati dengan secuil romansa Tita-Pedro karena terbilang hubungan terlarang (ketika Pedro berstatus suami Rosaura). Sementara saya berharap akan ada eksplor mendalam Tita-John. Ah, dokter John...

Novel dengan penutur atau point of view orang ketiga (yang sekaligus ternyata cucu si tokoh utama) ini memiliki gaya bahasa (sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) yang mudah dicerna. Diksi-diksinya nggak sulit dipahami. Setidaknya, proses mikir "Maksudnya apaan sih kalimat atau paragraf ini" seperti baca novel terjemahan historical romance, hampir nggak saya temukan dalam novel ini.

Apa yang bisa kamu dapatkan dari novel ini?

1. Kisah Tita-Pedro itu benar-benar ada di dunia nyata, yang entah ada di sudut bumi bagian mana. Contohnya saudara tetangga saya itu. :)
2. Resep-resep makanan maupun non makanan yang ya... kalau selow boleh tuh di-trial-error
3. Pergolakan emosi drama ibu-anak
4. Pikiran diajak berimajinasi membayangkan sisi magis yang ada.

Selamat membaca novel bintang 4 dari 5 bintang versi saya ini. :)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...