| foto: dok. pribadi |
Lantaran didorong seorang kawan dekat bernama Nessia ketika kami bercakap ringan di Direct Message Instagram, akhirnya saya menuliskan kisah ini. Mungkin (agak-agak) ada perlunya menuliskan pengalaman saya ini--terutama buat jurnal pribadi. Hehehe.
Jadi, pada unggahan sebelumnya tentang nonton F1, saya menginformasikan bahwa saya ikut rangkaian acara nonton F1 bareng pasangan seleb Tanah Air yang jadi role model pasangan muda negeri ini, Christian Sugiono dan Titi Kamal.
Pertama kali saya menerima file itinerary dan segala dokumen penting pergi ke Singapura atas undangan Singapore Tourism Board (Badan Pariwisata Singapura) ke kantor saya bekerja, saya melihat nama pasangan tersebut dalam list rombongan. Mulut saya seketika membulat lebaaar saat siang bolong di depan komputer kerja. Saya pikir, Key Opinion Leader (KOL) kali ini adalah YouTuber atau Selebgram yang mungkin saya nggak akan canggung-canggung amat, ya. Level artis top, ini gimana ngadepinnya? Lebay, ya? Secara... sangat, sangat jarang ketemu artis. Apalagi kalau harus terlibat dalam satu rombongan.
Hingga hari H rangkaian acara dimulai, gimana?
Menjelang tengah hari Jumat (14/9), saya menunggu jemputan guide rombongan. Saat dijemput, ternyata guide kami sudah menjemput rombongan dari Jakarta, termasuk Mas Tian--demikian saya memanggilnya, menyesuaikan panggilan Tian untuk Christian selama ini--(saya berangkat sendiri dari Jogja, turun di terminal 4 Bandara Changi, sementara rombongan Jakarta tiba di terminal 3).
Saat masuk ke mobil, orang yang saya lihat pertama adalah Mas Tian, karena memang beliau duduk di bangku tengah, dekat pintu mobil bagian tengah persis. Waktu itu orangnya diem aja, fokus ke HP-nya. Ya udahlah ya... belum punya asumsi macem-macem.
Gimana rasanya ketemu artis untuk orang macem saya yang jarang ketemu? Biasa aja. Sama kayak ketemu Morgan dan Isyana waktu liputan ke Bali sekitar Februari atau Maret lalu. Mungkin beda kali ya, kalau itu Chef Juna, Samuel Rizal, atau mungkin kalau sekarang Reino Barack. 😃
Dulu, saat tahu Mas Tian main sinetron Pengantin Remaja dengan Alyssa Soebandono, saya ngefans berat. Ngefans karakternya sebagai Abi/Fabian di sinetron itu dan pola hubungan 'anjing-kucing' Abi dan Amel (Alyssa). Kisah cinta murid dengan guru BP/BK sekaligus ada unsur perjodohan ini seru banget. Hahaha. Secara waktu itu usia saya masih remaja jadi ngefeel aja sama tuh sinetron. Seumuran sama Alyssa jadi berasa tuh sensasinya. 😃
Sering kali lihat Mas Tian di TV hingga tahu kabar pernikahannya dengan Mbak Titi (saya juga beberapa kali nonton sinetronnya Mbak Titi yang beliau berperan jadi tokoh protagonis tapi teraniaya gitu), siapa sangka sekitar 12 tahun berikutnya (dihitung dari sinetron Pengantin Remaja tahun 2006) ketemu sama beliau berdua, makan satu meja, kamar hotel bersebelahan (selisih satu kamar, sih), nonton F1 sederet bangku, sempat juga bertemu ibunda Mbak Titi yang memang ikut berlibur ke Negeri Singa.
Hari pertama ketemu Mas Tian setelah dari bandara, kami brunch di Wildseed Cafe and Bar. Saat jalan dari parkir ke gedung tempat kami makan, Mas Tian mulai bercakap,
"Dari Brilio, ya? Siapa namanya?" kurang lebih demikian ucapan beliau.
Ketika saya menyebutkan nama saya, Mas Tian bercanda, "Wah, Agustin, Augustar," sambil menatap punggung Pak Augustar, guide kami, yang telah berjalan duluan.
Selebihnya obrolan makan yang melibatkan 3 orang lain (guide, 2 orang dari Jakarta, sementara Mbak Titi datang sore hari bersama ibundanya). Saya canggung. Nggak tahu harus ngobrolin apaan. Itu pertama kali saya ke Singapura, ketemu semuanya, dan yah... saya memang nggak ahli basa-basi melumerkan suasana, hehehe.
Nah, sore harinya saat mau ke networking night di Sky Suit F1, rombongan kami naik kapal/perahu feri tuh, menyeberangi Sungai Singapura dari deket ArtScience Museum ke kawasan venue F1 di seberangnya tapi agak jauh membelok. Butuh sekitar 20 menit kali ya, perjalanan kapal ini.
Rombongan kami duduk di bagian paling belakang kapal/perahu feri itu, yang tanpa atap. Walaupun kepanasan, tetep aja asyik gitu ketika udah jalan, hembusan angin kerasa banget. Belum lagi viewnya tuh macam Gardens by the Bay dan Singapore Flyer yang ikonik banget (dan sering dibikin artikelnya di media saya bekerja), dan suara helikopter yang sepertinya menjalankan tugas memantau keamanan perhelatan F1 dari udara, bikin saya sangat menikmati perjalanan ini.
Saat di sebuah ruangan Sky Suit, rombongan kami membaur dengan tamu undangan STB yang lain. Selama di situ, tak banyak waktu antara saya dan Mas Tian ngobrol bareng karena memang masing-masing dari kami, pun rombongan lain menikmati suasana dan kesempatan langka di Sky Suit ini.
Saya sempat mencoba memecah keheningan antara saya dan Mas Tian di tengah suasana yang ramai dengan suara musik jedak-jeduk, dengan bertanya-tanya soal apa saja bisnisnya dan proyek aplikasi perjodohan bernama Setipe milik Mas Tian dan kawannya, Razi Thalib. Intinya bisnis yang dijalani beliau bersama sang istri salah satunya properti.
Sisa inti percakapan (super) basa-basi itu, yang saya tangkap, Mas Tian bilang kurang lebih, "Aku tuh sebenernya programmer." Iya, sih, info tersebut sudah sempat saya tahu samar-samar dari berita infotainment.
Selesai networking night, hari kedua kami (komplet dengan Mbak Titi) makan bersama di restoran yang menyuguhkan menu peranakan (China dan Melayu), The Blue Ginger. Kali itu, Mbak Titi duduk persis di sebelah saya, setelah sebelumnya di depan saya. Basa-basi lagi ya.. hahaha... saat beliau menggumam sebuah lagu. Saya kira itu lagunya Sigrid yang berjudul Strangers tapi kok nada selanjutnya berbeda?
Saya dan Mbak Titi saling menduga-duga apaan sih judulnya walaupun pada akhir hari itu nggak ketemu juga jawabannya. Saya ketemu jawabannya setelah berhari-hari kembali bekerja. Hampir dipastikan itu lagunya Bazzi feat Camila berikut.
Oh iya, keramahan Mbak Titi yang saya ingat waktu itu saat beliau menyapa pertama kali ketika baru mau berangkat dari hotel. "Oh, yang dari Brilio ya?" Kami bersalaman, berkenalan, selesai.
Hari kedua itu dilanjutkan main Virtual Reality (VR) game di Zero Latency. Kali ini Mbak Titi nggak ikutan, cuman Mas Tian. Mas Tian pun nggak full ikut main 2 game. Konon merasa agak pusing efek dari pakai toolnya VR pada game pertama.
Usai ngegame di Suntec City itu lalu lihat koleksi mobil klasik, kalau tidak salah kami berpisah dengan Mas Tian. Selama rangkaian acara ini, Mas Tian juga menyempatkan diri ketemu teman-temannya yang ada di Singapura. Kami bertemu kembali di Amber Lounge, Sabtu (15/9) nyaris tengah malam (menuju ke Minggu).
| foto: dok. pribadi |
Karena sering berpisah kegiatan--saya dan rombongan lain seperti itinerary yang dibuat, Mas Tian dan Mbak Titi dengan keluarga maupun kawan-kawannya--jadinya terakhir ketemu Mas Tian saat nonton final F1 di row 1 tribun Padang Grandstand. Nggak sampai Lewis Hamilton mencapai garis finish, Mas Tian dan Mbak Titi beranjak pergi. Sampai esok harinya saya pulang ke Jogja, saya nggak sempat pamitan sama keduanya.
Yah... nggak ada yang menarik-menarik banget dari pertemuan ini. Foto bareng pun udah terasa biasa aja. Hahaha. Tapi yang saya ambil dari sini, hidup orang nggak ada yang tahu. Selalu ada aja kejutannya. Baik itu dimaui manusia maupun nggak.
Saya nggak pernah ngarep ketemu Mas Tian dan Mbak Titi. Namun saya pikir kok ini jawaban dulu waktu mau kelar-kelar kuliah dan pengen kerja di media, alasan saya kenapa mau kerja di media adalah mau ketemu orang-orang terkenal (ya seleb, petinggi negara, atau siapa pun) dan hebat, dekat dunia yang yah katakanlah gemerlap itu tapi bukan sebagai artis.
Ya, siapalah saya ngimpi jadi artis 😂. Dan, walaupun bukan sebagai wartawan TV atau radio yang seringnya ketemu orang-orang terkenal gitu, jadi bagian manajemen perusahaan media itu sendirilah, kayak HRD gitu, nggak masalah. Pokoknya saya pengen bisa lebih dekat dengan mereka-mereka yang terkenal.
Apa mungkin ini yang namanya kalau Tuhan nggak ngabulin doamu (keinginan itu bisa jadi bentuk doa kan?) persis yang kamu minta, bisa jadi Dia ngasih sesuatu dalam bentuk lain (yang sama baiknya atau lebih baik)? Wallahua'lam. Namun, kejadian serupa udah beberapa kali saya alami.
Sekarang, saya berupaya meyakini dan mempersiapkan diri untuk ikhlas dengan hasil doa-doa saya sekarang. Biar nanti setelah tahu hasilnya tetap bisa bersyukur, minimal semelegakan dan selapang dada situasi pertemuan dengan Mas Tian dan saat menuliskannya di blog ini.
Kalau ada yang bilang "Jangan berhenti percaya/yakin", maka baiknya kita terapin. Kita nggak pernah tahu, doa kita mana yang bakal dikabulkan sama Sang Khaliq, kan? *selfreminder *selftalk. 😊
“To bring anything into your life, imagine that it's already there.” ― Richard Bach, The Bridge Across Forever: A True Love Story
Komentar
Posting Komentar