Langsung ke konten utama

Berjumpa Indra Sjafri, Egy Maulana, Ellyas Pical, dan atlet legendaris Tanah Air


Selasa (17/7) saat jam makan siang, masuk sebuah pesan WhatsApp undangan peliputan acara penyambutan Asian Games 2018 di Abhayagiri Restaurant, kawasan Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Acara ini digagas sebuah perusahaan aplikasi transportasi terkemuka di Tanah Air, yang kebetulan juga official mobile platform partner Asian Games 2018.

Kalau sebelum-sebelumnya saya abai dengan email undangan liputan karena lokasinya di Jakarta, kali ini saya bersemangat ingin media tempat saya bekerja hadir. Apalagi saya personel tim iklan di redaksi Yogyakarta, acaranya di sini juga. 


Namun saat saya tawarkan pada teman 1 tim, mereka berhalangan hadir. Kemudian saya bertanya-tanya, "Apa saya aja yang berangkat?". Mayan banget. Latihan liputan lagi, ketemu orang baru, ketemu rekan sejawat di Yogyakarta yang selama ini nggak saya tahu, makan enak di restoran mahal dan berview Insta-worthy, kenapa nggak? :D

Antara iya dan nggak karena teringat tanggungan iklan yang bisa-bisa aja tumplek blek dalam satu hari dan nggak terprediksi, saya mencoba meyakinkan diri. Kalau saya memberatkan iklan, iya itu tanggung jawab saya, tapi sebagai wartawan--katakanlah demikian karena saya bekerja di media online yang jelas struktur dan prinsip kerjanya adalah jurnalisme--saya juga butuh liputan. Kan malu, judulnya 'wartawan' tapi ditanya udah wawancara siapa aja dan liputan apa aja, malah nggak bisa jawab. MALU!


Tapi sudahlah, urusan malu belakangan. Urutan takut liputan sendiri harus saya enyahkan juga. Faktanya dulu liputan pertama kali bareng-bareng wartawan media lain--tekno pula, yang saya nggak ngeh--ke luar kota, saya bisa. Kenapa sekarang di 'kota sendiri' nggak berani? Nggak bisa? Bisalah... semua itu ketakutan saya aja. Selain itu juga mencoba menerapkan yang ayah saya katakan "Kalah cacak, menang cobak". Yang terjadi, terjadilah. Yang penting saya sudah persiapan dan niatnya baik, ibadah kerja.


Saya putuskan menghadiri undangan Rabu (18/7). Motoran sendiri. Sebelumnya ditanya Pak Bos apakah saya yakin motoran sendiri ke daerah Prambanan, saya jawab yakin. Walau sebenarnya kebayang capeknya sih.


Butuh waktu sekitar 35-40 menit dari lokasi kantor sampai ke Abhayagiri. Belum lagi pagi jam 8-nya saya ke Museum Dirgantara dulu untuk melihat dari dekat obor Asian Games bersama seorang kawan kantor, Yuli. Lalu acara kurang lebih 2-3 jam, perjalanan lagi. Terus membayangkan nulis artikelnya yang bisa aja lebih dari 1 angle, duh.. lembur lagiii :D
Faktanya...

Iya, saya lembur. Saya capek. Selama liputan diuber-uber orang sales sama account executive nagih iklan maupun ngobrolin proyek. Sebenarnya remote tugas iklan bukan barang baru tapi eksekusinya memang repot, sih. Apalagi kalau kudu ngedit draft, pakai HP bisa tapi ya nggak sememuaskan di komputer maupun laptop. Nggak bawa laptop karena ribet. Berat. Hmmm... berimpian punya iP*d gitu atau sejenis yang bisa enteng dibawa ke mana-mana, mahal... banyak kebutuhan juga *curcol :D

Tapi ada beberapa hal yang saya syukuri saat hadir meliput acara ini. Hadir paling awal di venue acara, saya berjumpa dengan Mbak Dewi dan Mas Umar. Mereka dari media Waktu (kalau tidak salah tangkap) dan Bernas. Usianya mungkin beberapa tahun di atas saya. Yang jelas, mereka senior.

Sekalipun senior, nggak ada sisi angkuh yang saya dapatkan dari beliau berdua. Singkat kata, mereka RAMAH!

Saya kerap mendengar bahwa ada keguyuban antarwartawan saat liputan bareng, apalagi yang memang ditugaskan di satu pos yang sama. Seorang editor senior di tempat saya bekerja pernah bercerita ngepos di Mabes TNI. Di sinilah beliau menemukan wartawan-wartawan solid. Editor saya ini yg 'apa adanya' banget, HPnya jadul, sampai dibelikan Bl*ckb*rry sama kawan-kawannya! Mengingat kebutuhan teknologi untuk liputan sangat diperlukan.

Cerita lain adalah bagaimana senior-senior saya di tempat bekerja bercerita kenal si X,Y,Z yang dulu satu kantor lalu berpindah. Di media, sepertinya pergantian personelnya cepat sekali.

Merasa diterima, dirangkul, dan diperlakukan seakan junior/adek/newbie tanpa kesongongan, bikin saya manut diajak ngider keliling Abhayagiri. Nggak keliling juga sih, tapi ke sana ke sini selama liputan sama mereka berdua. Jadi nggak manyun, deh.

Selanjutnya malah saya dimasukkan Mbak Dewi ke grup wartawan Yogyakarta. Batin saya terharu, akhirnya saya bakal ngalamin juga dapet broadcast materi liputan. Keren! :D

Kemudian bertemu wartawan-wartawan lain. Bahkan secara nggak langsung Mbak Dewi dan Mas Umar memperkenalkan saya dengan wartawan senioooor banget, sudah bapak-bapak sepuh. Ada 1 orang yang humoris sekali. Beliau dari Kedaulatan Rakyat (KR). Cara bicara beliau alus pisan. Tipe-tipe kalem.

"Kata orang kan kita harus belajar menertawakan diri sendiri biar nggak stres. Ya, saya mencoba mempraktikkan," ujar Bapak yang konon bernama Waris ini setelah bercanda.

Sekilas beliau melihat ID Press saya. "Ada kaitannya dengan merek mobil dari H*nd*?" tanya beliau. Saya sambut cengengesan.

Tanpa banyak pertanyaan basa-basi bahkan perasaan kikuk, beliau memperlakukan saya seperti rekan sejawat lama/sering liputan bareng, selooww aja ngajak ngobrol, bercanda.

Dari Pak Waris saya dapat informasi yang pada akhirnya saya kaitkan dengan celetukan Pak Bos di kantor maupun senior lain.

Media zaman sekarang adalah ladang bisnis. Nggak heran kalau warganet banyak mencecar "Ah cuma cari views aja, ningkatin rating aja, nggak peduli kualitas" dan bla bla bla lain. Faktanya, media sekarang, termasuk online, nyawanya dari views. Dari views bisa mengundang iklan. Dari iklan (plus sumber daya lain mestinya sih), para karyawan bisa dapat jatah bulanan.

Pak Waris menyebutkan bahwa zaman dulu antarwartawan itu saling bantu. Nggak ada persaingan. Kalau KR kehabisan koran (atau bahan berita ya?) itu ambil ke media tetangga (lupa beliau nyebut apa kemarin).

Kalau mengingat cerita senior saya yang beberapa tahun lalu masih di Jakarta ngepos di Istana, Mabes TNI, DPR, dll, sepertinya masih ada saling bantu itu. Konon kalau ketinggalan update, bisa minta bahan kawan wartawan dari media lain yang 1 pos. Maka dari itu, nggak heran terkadang kalimat-kalimat berita media satu dengan yang lain hampir sama persis. Bisa jadi itu dari press release yang diolah kembali atau kalau medianya masih 'saudara' bisa copas dengan mengutip media pertama yang menerbitkan.

Perkataan Pak Waris bisa tepat, bisa juga tidak. Karena saya juga hampir jarang di lapangan--saya merasa beruntung berangkat liputan karena bisa tahu apa suara/kejadian/pengalaman yang selama ini nggak saya tahu selama melulu di dalam kantor. Tapi faktanya, obrolan persaingan antarmedia nggak jarang saya dengar, bahkan dengan media sesama saudara (1 induk perusahaan).

Hal lain yang saya syukuri hadir dalam acara kali ini adalah perjumpaan dengan coach sepak bola fenomenal, Indra Sjafri, pesepak bola muda yang namanya tengah bergaung di Indonesia dan Polandia si Egy Maulana Vikri, serta deretan atlet legendaris yang sudah mengharumkan nama bangsa. Untuk yang deretan legenda olahraga ini, saya mulai terharu saat beliau-beliau masuk dan duduk di tempat acara, tak jauh dari saya.


Nama yang familiar buat saya adalah Ellyas Pical, legenda tinju Tanah Air. Kalau nggak salah ingat, mendiang tetangga saya dulu kalau nonton TV ke rumah saya selalu nonton acara tinju. Nama Ellyas Pical terngiang-ngiang sekali, selain Mike Tyson atau Muhammad Ali tentunya. 

Semangatnya luar biasa menyambut Asian Games 2018. Pembawaan Ellyas Pical tampaknya selalu bersemangat. Pun atlet-atlet lain, ketika ditanya soal Asian Games, ada getar spirit dan optimisme di suaranya. Mungkin mereka tengah bersyukur dan terharu pula, diajak ke depan publik kembali untuk menginspirasi generasi muda yang akan berlaga di Asian Games ke-18 ini.








Kiri ke kanan: ➡️Coach Indra Sjafri, orang yang selalu yakin Indonesia bakal bersinar, juara, berprestasi. 💪 ➡️ Atlet legendaris boxing Ellyas Pical. Walaupun nggak pernah lihat beliau saksama di TV, nama beliau familiar banget kalau ada tetangga nonton gelaran tinju. 😁 ➡️ Pemuda 18 tahun yg namanya bersinar di Indonesia dan belakangan jd perbincangan di Polandia gara2 gabung Lechia Gdansk (hasil googling 😝🙏), dan di dunia hiburan dia dikabarkan dekat sama putri Umi Pipik dan mendiang Ust Uje. Egy Maulana Vikri. ⏺ Selain ketiganya, bertemu juga dg atlet legendaris Tanah Air. Nyaris brebes mili melihat beliau semua. Bahagia terharu, kita (dibuat) lebih melek dan semoga lebih peduli sama yg sudah berjasa untuk negeri ini bertepatan dg perhelatan #asiangames2018 . ⏺ Semoga sukses, Asian Games 2018! Para atlet Tanah Air, semoga sukses dan diberkahi menyabet semua medali emas💪❤ ⏺ 📷 Mbak Dewi &/ Mas Umar ⏺ Selengkapnya curhatan di http://agustinew.blogspot.com/2018/07/berjumpa-indra-sjafri-egy-maulana.html ✌😁

Sebuah kiriman dibagikan oleh agustine w (@agustine_w) pada
 
Di tengah kabar tak mengenakkan selama ini yang menyatakan bahwa ada atlet-atlet tak diperhatikan sampai-sampai hidupnya tak sejahtera di masa tua, dengan melihat kehadiran para legenda olahraga di Asian Games 2018 ini saya berdoa penuh semoga perhatian kepada atlet veteran lebih dimaksimalkan kembali. 

Terlepas dari atlet itu sendiri yang harus lebih kreatif tak hanya mengandalkan potensi fisiknya saja dalam melanjutkan hidup, tentu sudah jadi kewajiban pemerintah memperhatikan sebagai tanda jasa bagi pembela negara seperti para atlet-atlet ini.



Keharuan ini sudah bisa ditebak endingnya. Ada cairan yang menggenang banyak di pelupuk mata. Tenggorokan sakit menahan biar tangis nggak pecah di depan banyak orang. Saya terlalu sensitif, sih.

Usai acara, banyak orang menyerbu tamu undangan. Sementara deretan atlet legendaris menandatangani foto-foto yang akan dilelang, di sisi lain ada door stop wawancara dengan Egy dan Coach Indra Sjafri. Saya nggak ikutan wawancara buat bahan artikel, nguping aja :D.

Selanjutnya minta foto bareng. Nggak ngefans, tapi kapan lagi bisa jejer dengan orang-orang hebat kan ya? Itulah impian saya, bertemu orang-orang hebat. Syukur-syukur ada pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka.





Dari Coach Indra saya belajar tentang optimisme. Dan... bisa jadi contoh sepele jadi leader yang baik. Hal ini saya tangkap saat beliau ditanya Pak Waris maupun hadirin lain tentang seretnya prestasi sepak bola Tanah Air. Jawaban Coach Indra mantap, "Prestasi butuh waktu. Prestasi butuh proses." 


Bagi saya, sikap yang ditunjukkan Coach Indra ke publik berupaya tetap merangkul dan menjaga semangat anak asuhnya plus mengajak orang di luar sana selalu optimis. Pokoknya, buang jauh-jauh pikiran dan energi jelek, singkat kata yang saya simpulkan. Nggak lupa juga menentukan strategi dan perbaikan dari waktu ke waktu.


Bersama atlet legendaris Tanah Air, Pascal Wilmar (bola voli) dan Abdul Rojak (taekwondo)
Saya nggak meragukan Coach Indra pribadi yang hebat. Selain sepertinya religius, beliau orang yang selalu berpikir positif dan optimis. Kabar-kabar yang beredar menyatakan dirinya adalah pelatih terbaik negeri ini. Beliau juga ulet mencari bibit-bibit baru sepak bola sampai ke pelosok daerah. Egy Maulana adalah salah satu yang terjaring Coach Indra.

"Kalau mau bangun sepak bola Indonesia, bangun dulu anak-anaknya dari sedini mungkin," Kurang lebih demikian pernyataan Coach Indra dalam acara siang Rabu (18/7) kemarin.


Nico Thomas, petinju keren Indonesia
Setelah liputan kemarin, kok saya jadi pengen nonton Asian Games ya? :D Seneng aja jadi saksi sejarah negeri ini.

Selamat menyambut Asian Games 2018! Semoga Indonesia borong semua emas :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Interview Remy Ishak aktor top Malaysia: The Power of Angan-angan

foto: via Instagram/@remyishak Menyadari fisik sempurna (sehat lahir dan batin, alhamdulillah) tapi tak OK jadi artis dan pribadi pemalu (? 😁), membuat saya merasa sudah cukup menjadi orang yang bisa berhubungan dengan para selebriti atau pesohor negeri. Sebenarnya sih nggak pernah bercita-cita jadi artis, tapi seneng aja kenal sama artis atau orang terkenal. Bangga! 😜 Saya lupa mulai usia berapa punya pikiran semacam ini. Yang paling saya ingat, jelang akhir kuliah, cita-cita jadi psikolog meluntur dan maunya kerja di perusahaan media massa. Kalaupun nggak jadi reporter/wartawan, minimal staff manajemen perusahaan itulah, biar saya bisa ketemu orang-orang terkenal seliweran tiap hari. Bahagia hidup saya, pikir saya kala itu. Tawaran kerja di sebuah biro psikologi dari seorang dosen saya tolak karena keukeuh mau kerja di bidang broadcasting. Radio sasaran saya waktu itu. Meski sadar betul nggak punya kemampuan ngoceh, saya pikir pokoknya bisa masuk dunia media, baik TV, cet...

Review hotel di Bandung: Jalan kaki ke Cihampelas Walk nggak sampai 10 menit

Traveling ke Bandung, 10-13 Oktober kemarin kukira bakal sendirian. Dari Jogja dan selama di sana. Makanya, aku riset betul-betul untuk menemukan hotel yang bersih, aman, nyaman, lokasi strategis karena siapa tahu aku ke mana-mana dekat naik ojek online.  Susah-susah gampang dapet hotel di Bandung dengan budget ngepas.  Tiap aku survei di Trav***ka, T*k*t, dan A**da, pasti yang aku fokus selain lokasi adalah review rating terendah, dari yang angka tahun lama maupun terbaru. Review yang bikin aku males memilih hotel biasanya soal (ini aku urutkan dari yang bikin aku berat memilih sampai yang bisa aku toleransi): 1. Kamar mandi kotor, shower atau air kran kecil bahkan ada yang mampet. Showernya yang panas nggak fungsi--awalnya aku nggak masalah ya ini, tapi nyampe Bandung memang sangat menolong sekali shower air panas/angetnya untuk meredam dingin (baik AC maupun cuaca) 2. Kamar engap, agak horor, ditaruh di pojokan, bla bla bla 3. Jalan sepi, penjaganya jutek, berisik, parkir s...