Langsung ke konten utama

Jalan-jalan ke Bandung 4 hari 3 malam habis Rp 1 jutaan, ngapain aja? (Part 1)

Halaman samping Gedung Sate, setelah dari Museum Gedung Sate

Pada akhirnya perjalanan ke Bandung terlaksana. Obrolan niatan + perencanaan kurang lebih satu bulan. Pembahasan serius destinasi wisata, akomodasi, dll sekitar 1 minggu sebelumnya. 

Sebenarnya random aja memilih traveling luar kota ke Bandung. Sebelumnya, Semarang juga masuk rencana meski pada akhirnya hanya jadi wacana. Mungkin destinasi berikutnya. Mau ngapain, sih? Pokok jalan-jalan, lihat-lihat tempat berbeda, merasakan suasana baru, melepas penat, dan jelas dong, memanfaatkan jatah cuti tahunan. Hehehe. Jadi, tidak ada alasan khusus kenapa harus Semarang, Bandung, dan sebagainya. 

Travelmate perjalanan ke Bandung kali ini adalah kawan yang juga temen ke Kuala Lumpur dulu. Saya pikir, kami cukup klop. Satu demen ngajak, satu lagi mau-mau aja diajak. Hahaha. Plus-minus karakter kami cukup saling melengkapi. Saya orang tipe A yang well prepared--katakanlah demikian--, dan dia orang tipe B yang santai banget. Contohnya soal penginapan, deh. Dia ngide pesen 1 kamar untuk 1 malam terlebih dahulu, untuk 3 malam kami di Bandung. Ada kepikiran, "Wah, nanti kalau dapatnya hotel kemahalan gimana?" atau "Nggak kebagian hotel (yang dipengin) gimana?", dan semacamnya. Namun alasannya cukup masuk di akal. Dengan hotel incaran hotel budget, maksimal ya Rp 200 ribuan/kamar/malam untuk 2 orang (artinya per orang Rp 100 ribuan/malam), hotel (di kota pun) juga nggak aneh-aneh ya fasilitasnya. Basic aja seperti (harapannya) air bersih lancar, water heater berfungsi baik, lemari baju, dan tempatnya bersih--kasur mau twin bed atau double/queen bed bebas. Namun saat melihat di aplikasi pencarian hotel/penginapan, sekalinya kelihatan foto yang dipasang oke-oke dan lokasinya masih aman dari perkiraan kami, eh reviewnya jelek-jelek. Ada yang bilang bau apek lah, ditaruh di kamar di pojokan lah, water heater nggak nyala lah, bahkan sempat kami lihat-lihat review hotel yang di pinggiran (sempat berpikir nginep di atas menuju Kawah Putih) airnya dimatikan saat malam, dan lain sebagainya. Wah, stres saya! 

Menyambung alasan pesen 1 kamar tadi bisa saya terima. Jadi, kalau 1 kamar di 1 hotel itu zonk, kami bisa pindah. Lalu, saat jelang berangkat ke Bandung dari Jogja, bahkan pada hari pertama sudah sampai sana, kami masih belum menentukan beneran nginep di kota terus atau salah satu malamnya ada di arah Kawah Putih. Artinya, kudu stok sabar dan budget dilebihin untuk penginepan, siapa tahu agak 'membengkak' dari seharusnya. Karakter tipe A saya pun memahami kondisi ini. 

Banyak banget yang ingin saya abadikan soal Bandung. Sebagai pengalaman pertama ke Bandung murni traveling, saya ingin kesannya terabadikan--sekitar 10-12 tahun lalu saya ke Bandung untuk PKL Psikologi Klinis. Bukan hanya lewat foto-foto di Instagram yang ruang mediumnya terbatas. Saya pecah-pecah aja kali ya, informasinya. Biar nggak capek bacanya. Hehehe. Siapa tahu juga kawan-kawan membutuhkan informasinya.

Hotel/Penginapan di Kota Bandung.

Sudah sedikit saya singgung ya di atas soal hotel. Saya dan travelmate memutuskan pesan 1 kamar dulu untuk 10-11 Agustus 2022. Lokasinya di Dipatiukur lewat RedDoorz. Lokasinya tak jauh dari Universitas Pajajaran. Hotel budget ini lokasinya agak nyaru dengan bangunan-bangunan lain yang menyediakan jasa laundry, makanan, fotocopy, dan lain sebagainya. 

Tampilan depan hotel pertama

Dengan mengeluarkan budget kurang lebih Rp 160.000 untuk 1 malam itu, kamarnya lumayan bagus, ya. Room service amenities-nya ada queen bed, 1 kursi, meja panjang + TV layar datar, lemari baju besar + hanger + kaca besar, 2 gelas + (sayangnya kok) 1 botol air minum, tempat sampah, colokan secukupnya di belakang TV maupun dekat tempat tidur, serta AC yang berfungsi baik. Sementara bathroom amenities ada handuk, body soap sekaligus sampo + sikat gigi dan pasta gigi 2 buah, lemari besar di kamar mandi, water heater, shower + kran, tisu gulung, dan tempat sampah. Dengan semua fasilitas ini, cukup untuk kami tidur nyaman.

Sayangnya, minusnya kamar di lantai 1 ini adalah tidak ada jendela untuk melihat keluar, sehingga pencahayaan hanya mengandalkan lampu kamar. Parkirannya di basement, pintunya di sebelah gedung, yang turunannya mayan bikin keder. Sebab turunannya bukan semata lurus ke bawah, tapi ada belokan di bawah nyaris 45 derajat. Kami yang cewek-cewek minta tolong ke satpam jaga untuk bantu nurunin motor sewaan. Nah, untuk masuk ke parkiran ini memang mau tidak mau minta tolong satpam jaga sebab akses kuncinya cuma mereka yang punya. Konon sih penginapan ini jadi satu sama kos-kosan, jadi selain satpam, ya penghuni kos-kosan yang punya akses ke parkiran. Tapi tenang aja, pelayanan resepsionis maupun satpamnya 24 jam, jadi tidak perlu khawatir pulang kemalaman atau mau keluar pagi-pagi. Minusnya lagi dari kamar ini, di kamar mandi lumayan tersebar jamur-jamur di dinding. Kayak udah berminggu-minggu nggak dibersihkan gitu. Nggak sampai bikin jijik banget, sih. Masih aman. Ya, meski hotel budget, harusnya rutin pembersihan nggak, sih? Entah juga sih aturan manajemen hotel seperti apa.  

Sebrang hotel pertama

Nah, karena merasa kamarnya masih lumayan bikin stay nyaman dan aman, kami melanjutkan ke malam kedua. Sebenarnya keputusan ini saat malam pertama belum terlewati. Sebab, kami merasa daripada payah cari-cari hotel, pindah-pindah, bawa carrier berat (saya sih yang bawa lebih berat ketimbang punya travelmate), jadi lanjut saja. Hanya saja kali ini pesan langsung, tanpa aplikasi. Harganya pun beda dengan pemesanan pertama. Kali ini sekitar Rp 218.000. Oh iya, deposit hotel Rp 100.000, tanpa meninggalkan kartu identitas. Kalau deposit Rp 50.000 wajib pakai kartu identitas. Kami pilih Rp 100.000 karena kartu identitas sebisa mungkin bahkan harus kami bawa ke mana-mana, apalagi di kota orang. 

Kalau dipikir dan dilihat kembali, lokasi penginapan ini strategis. Dekat tempat makan, jajanan malam di pinggir jalan, minimarket ada persis di seberang, SPBU, sinyal internet jelas lancar, jadi bebas khawatir kalau lapar atau butuh obat seperti saya kemarin karena sempat diare dan masuk angin sehingga beli di minimarket.

Lantas, bagaimana malam ketiga? 

Pada Jumat, 12 Agustus 2022, pagi hari jam 07.00 kami memutuskan check out dari hotel di Dipatiukur dengan niatan menginap di atas, arah Kawah Putih. Dadakan pesennya. Siapa tahu dapat bagus ketimbang di aplikasi yang menurut kami untuk hotel budget rata-rata reviewnya bikin cemas. Namun pada akhirnya kami memutuskan kembali ke kota setelah dari Kawah Putih. Sekalian capeknya. Biar Sabtu tinggal keliling kota cari oleh-oleh, kulineran, malamnya 23.00 balik Jogja. Dengan tenaga yang harus wajib ada, sampai kota gerimis sisa-sisa hujan sebelumnya, macet banget tapi untungnya motor bisa nyelip-nyelip, akhirnya travelmate berhasil mendapatkan hotel ya yang lumayan lagi di Cihampelas. Awalnya kami nemu hotel bagus di daerah Pasar Baru tapi ketika tiba di lokasi tempatnya agak kurang sreg, ya sudahlah cari lagi. Lalu sempat ke dekat-dekat hotel pertama, eh cuma ada single bed 1 kamar. Masa iya kami beda kamar? Dan, dapatlah di Cihampelas. Kami tanya, "Masih ada untuk dua orang, nggak?", ada pun harganya Rp 200 ribu sekian. Lantas, betapa baiknya Aa' resepsionisnya menginfokan kalau ingin lebih murah, bisa pesan lewat aplikasi. Well, akhirnya kami dapat kamar di lantai 2 dengan budget Rp Rp 185.000 kurang lebih.

Tampilan depan hotel kedua

Ternyata dengan harga yang 11-12 hotel pertama, fasilitasnya beda. Plusnya, ada jendela. Minusnya, tidak ada lemari baju. Cuma kayak tatakan yang bisa ditutupkan ke dinding dan dibuka, itu pun cuma bisa naruh barang max 3 kg. Tidak ada air mineral, perlengkapan mandi seperti sabun dan sikat/pasta gigi, tapi ada handuk, shower. Air hangatnya kudu nunggu 2-3 menit. Air krannya di wastafel nggak keluar kenceng. Minimalis sekali. Sebagai info, kalau di hotel pertama tadi ada semprotan kloset duduk/jet washer, kali ini adanya bidet (semprotan yang terletak di dalam kloset dan biasa berada tepat di bawah anus).

Plusnya lagi kasurnya lebih luas. Hanya saja tidak ada space kanan-kiri tempat tidur untuk jalan. Dipasin alas untuk kasur. Soal kebersihan, sama saja, kamar mandinya nggak kinclong-kinclong amat. Ada tanda bekas sabun yang nggak disikat. Lalu saluran pembuangan air shower setengahnya agak mampet sehingga ada genangan air saat mandi. Mau nggak mau harus diangkat saja penutup pembuangan air itu. Biar segera habis genangan airnya. Namun so far, aman, nyaman, kok. Desain interiornya modern ketimbang hotel di Dipatiukur. Kunci kamar sudah modern pakai key card, sementara yang hotel pertama masih pakai kunci biasa. Ya, pada akhirnya pilihan juga ya, apalagi hotel budget yang kita nggak bisa nuntut macem-macem, kan. Hahahaha. Sadar diri~

Lokasi hotel malam ketiga ini kalau sejauh mata memandang, cukup strategis tapi kanan-kiri nggak seramai tempat makanan dll seperti hotel pertama. Yang jelas, sebrangnya SPBU. Jadi kalau-kalau mau isi bensin buat motor, ya deket banget. 

Makan malam kami setelah capek dari Kawah Putih dan muter-muter cari hotel saat Bandung habis hujan dan macet parah

Lantas soal makan, masih bisa diakalin pesen online. Oh iya, lokasinya di jalan satu arah, sehingga kalau kebablasan agak jauh naik motor ya muter lagi. Kalau deket banget bablasnya, bisa puter balik tapi melipir aja tanpa nyebrang--buat motor ya, kalau mobil mungkin mundur tipis-tipis. 

Transportasi di Bandung.

Saya spill dulu transportasi Jogja-Bandung-Jogja. Kami pilih kereta paling murah, Kahuripan, sekitar Rp 80.000/ orang. Berangkatnya malam hari sekitar pukul 21.40an (st. Lempuyangan) - 06.00 (st. Kiaracondong). Lalu baliknya 23.00an (st. Kiaracondong) - 07.30an (st. Lempuyangan). Konsekuensinya, kursi tegak bikin pegel punggung dan pinggang. Apalagi kemarin penuh seatnya, sehingga tidak ada space longgar untuk selonjoran kaki selain di bawah kolong kursi depan kami. Tapi sudah kami niatkan untuk senang-senang dengan budget secukupnya, jadi nggak papa deh. Hahaha.

Lantas di Bandung kami sewa motor. Jelang berangkat sampai beberapa jam sudah di Bandung, kami masih nanya-nanya ke berbagai penyedia jasa persewaan motor. Kami timbang-timbang plus minusnya. Singkat cerita, kami dapat paketan 4 hari Rabu-Sabtu jam 16.00 itu habis Rp 380.000. Dapatnya Yamaha Fino yang muat untuk saya yang agak gemuk, travelmate dan 2 carrier kami. Carrier milik saya ditaruh depan, carrier punya kawan dicangklong di belakang. Minusnya kemarin--dan salah saya juga nggak cek awal-awal--, spion kiri tidak berfungsi maksimal karena posisinya nggak pas. Kami jadinya nggak bisa lihat belakang dari sisi kiri. Mana spion bulet pula, kesannya membatasi pandangan. Hahaha. Nggak terbiasa aja kali, ya. Lantas stang motor agak berat dibelokkin. Ini bisa jadi karena faktor belum terbiasa atau memang jenis motornya demikian? Entahlah, yang jelas kami niat ingsun mudah-mudah dikasih selamat oleh Tuhan YME selama perjalanan pakai motor itu, dan motor itu juga aman. 

Carrier yang udah kayak semingguan aja jalan-jalannya, meleset perhitungan hahaha

Plusnya dari motor ini selain ukurannya sedengan--nggak kecil, nggak kegedean juga-- disertai 2 helm, 2 jas hujan, kanebo dan gembok khusus cakram ban, ialah bensinnya awet. Total kami hanya ngisi bensin Rp 49 ribu Pertalite selama Rabu-Sabtu. Pertama Rp 39 ribu untuk full tank karena awal kami terima belum full. Itu kami pakai keliling kota dan ke Kawah Putih PP yang jaraknya 1 jam 45 menit - 2 jam dari Dipatiukur/Cihampelas (ini udah sekalian muter-muternya cari hotel karena terjebak macet saat habis dari Kawah Putih yaa). Sabtu sebelum pulang kami isi Rp 10.000 aja biar separuh tank (jarum meteran di tengah-tengah E dan F). So far, admin persewaan motor ini komunikatif dan kooperatif. Meski memang saat bilang soal spion itu, mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena posisinya kami harus ke Kawah Putih jam 7, sementara mereka jam operasionalnya jam 8. Ya sudah, bismillah selamat! Pun yang nganterin juga ramah. Jadi, tidak ada kekecewaan berarti bagi kami. Tapi mudah-mudahan jadi input yang soal spion tadi. Hehehe. Kalau butuh persewaan, bisa nih menghubungi mereka di Instagram @motortravel.bdg. Bisa tanya detail syarat dan ketentuan mereka. 

Nah, sebelum dapat motor maupun setelah motor dijemput itu, kami ngandelin taksi online. Jadi, biayanya menyesuaikan saja dekat-jauhnya. Iya, motornya bisa diantar-jemput. Meski di aturannya tuh antar-jemput di hotel dan stasiun aja, bisa didiskusikan di luar tempat itu. Catatannya nggak lebih dari 5 km dari posisi penyedia jasa persewaan motor ini. Intinya, selama bisa tanya/komunikasi dengan adminnya, tanyakan betul-betul biar sama-sama enak. 

Oke, itu soal akomodasi dan transportasi. Lanjut soal makanan atau destinasi wisatanya dulu? Lanjut part 2, ya. Diusahakan segera update :)

Bocorin dulu hitungan biaya akomodasi dan transportasi selama di Bandung. Ada catatan di bawah sendiri yang jadi alasan kenapa bisa Rp 1 jutaan. Semoga bermanfaat ya, teman-teman :)






 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...