Langsung ke konten utama

Review buku: Imbas baca 'Berdamai dengan Kanker', lemes sekujur tubuh


(Review berdasar opini pribadi)

Bermula dari iseng meramaikan acara giveaway seorang kawan, Mbak Putri, saya nggak menyangka kalau akhirnya beruntung mendapatkan buku Berdamai Dengan Kanker karya Mbak Rahmi Fitria ini. Pikir saya, lumayan banget. Beberapa waktu belakangan saya memang memikirkan tentang penyakit kanker, terlebih yang akrab dengan kaum hawa, kanker payudara dan serviks. Kenapa?

Beberapa tahun lalu, saya mendengar cerita sepupu operasi kista. Melansir dari laman hellosehat, kista merupakan sebuah kantung yang berisi cairan, udara, atau bahan lainnya yang abnormal dan menempel pada organ terdekat. Kista merupakan tumor jinak (bukan kanker), sehingga kista tidak berbahaya. Umumnya, kista tidak menimbulkan gejala apa pun. Akibatnya, kista dibiarkan berkembang, menjadi lebih besar, dan dapat menjadi parah. Ya, meski bukan kanker, tetap saja itu kondisi abnormal di dalam tubuh.

Kemudian mengingat gaya hidup saya yang yah... nggak hancur tapi ya nggak sepenuhnya sehat, dilihat dari asupan makanan dan kurang olahraga, sehingga terlewat curvy (hehehe), ortu pun selalu warning untuk minum banyak air putih, banyakin sayuran dan buah, kurangin makan gorengan, dan perbanyak gerak alias olahraga. Apalagi kalau saya curhat sama ibuk, datang bulan beberapa kali nggak teratur, kadang bisa jarak sebulan sampai 1,5 bulan belum haid lagi, ibuk semakin kencengin pesan untuk mengubah pola hidup.

Sebetulnya ortu juga bukan pencinta olahraga tapi karena beliau petani, tiap pagi ke ladang, aktivitasnya mau nggak mau memang menuntut badan bergerak dan bonus kena sinar matahari pagi yang ngefek ke kesehatan. Beliau berdua juga makannya nggak aneh-aneh. Tahu dan tempe selalu ada di menu makanan. Sayuran juga kadang metik di ladang.

Dulu saya sempet mikir, ah membosankan tapi dewasa ini semakin sadar justru itulah yang bagus buat kesehatan ya? Daripada ayam-ayam mulu, apalagi broiler dengan suntikan2 penggemuk dll, atau daging sapi dan kambing yang susah dicerna lambung.

Berkebalikan sama saya. Apalagi pekerjaan saya lebih banyak di depan komputer, ya sudah... bobot tubuh saya naik. Dan, bisa juga sih itu yang menjadi penyebab haid nggak teratur. Menurut artikel di aura.tabloidbintang.com melansir dari Boldsky, ada statement begini:

Berat badan mempengaruhi hormon dalam tubuh

Perubahan signifikan dalam berat badan dan obesitas menyebabkan menstruasi yang tidak teratur. Kelebihan berat badan menghambat siklus menstruasi. Haid yang tidak teratur bisa memicu tubuh untuk meningkatkan resistensi insulin karena berat badan. Ketika ada kelebihan insulin dalam aliran darah Anda, produksi hormon akan mempengaruhi keteraturan siklus haid wanita.

Ketidakteraturan haid juga dibahas dalam buku Berdamai Dengan Kanker. Tepatnya kisah Shahnaz Haque yang tak mengalami haid selama 2 bulan, lalu ke dokter dan ditanya ada riwayat keluarga kanker atau nggak. Singkat cerita, berlanjut ke bagian dia didiagnosis kanker ovarium. Saya langsung nelen ludah.

Bukan hanya membaca kisah Shahnaz saja yang bikin leher tercekat, melainkan semua kisah penyintas kanker di buku ini. Bahkan untuk kisah penyintas kanker yang harus menjalani banyak sekali pengobatan herbal, medis, bolak-balik ke luar negeri, hingga badan rasanya tak berdaya, remuk, hingga mau turun kasur saja merangkak, itu juga langsung bikin badan saya merinding, melemas, seakan turut merasakan nyeri.

Lalu, ada bagian paling emosional yang sempat membuat saya menitikkan air mata adalah kisah Shahnaz yang akhirnya berdamai dengan ayahnya. Membaca kisah ayahnya berdoa lebih baik dirinya yang sakit (kalau tidak salah ingat. Saat menulis review opini pribadi ini, saya meninggalkan buku tersebut di kost) daripada Shahnaz. Sebegitu besar cinta orangtua pada anaknya, yang sering kali anak nggak menyadari. Otomatis saya ingat sama ayah dan ibu di rumah.

Buku ini menyuguhkan fokus bagaimana emosi, pikiran, dan psikologis seseorang bisa memengaruhi penyakit fisik. Hal tersebut bukan hanya terlihat dari cerita para penyintas kanker, melainkan juga hasil penelitian yang dituangkan penulis dalam buku ini. Saya jadi teringat seorang ustaz di TV yang mengaitkan penyakit fisik dengan kondisi emosi dan atau psikologis seseorang. Saat ada audiens curhat keluhan fisik tertentu, ditanyalah oleh sang ustaz, bagaimana hubungan dengan orangtua, masih menyimpan sakit hati sama teman atau mantan, dan sebagainya.

Mungkin memang ada benarnya pikiran berpengaruh ke fisik. Contoh sederhana konsep psikosomatis dalam ilmu psikologi. Mengutip dari lama hellosehat, secara harfiah gangguan psikosomatis diartikan sebagai penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Contohnya nih, saya cemas ketemu seseorang yang punya power (misal bos dll), lalu saya mendadak mules, leher tercekat, agak-agaknya pengen muntah. Itu "sepele". Ada yang memang sampai pusing, sesak napas, dll. Dalam kasus yang lebih berat dan dalam, bisa jadi emosi-emosi buruk yang '"dipelihara" begitu lama, memicu gangguan fisik hingga timbul penyakit dalam tubuh.

Dengan begitu, semacam ada tuntutan untuk melihat ke dalam diri, mengenali diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis. Supaya ketika terjadi sesuatu yang nggak beres, seseorang bisa berdamai dengan segala situasi diri. Namun memang nggak mudah langsung berdamai dengan diri sendiri, termasuk para penyintas kanker yang kisahnya tertulis dalam buku ini. Mereka harus melalui situasi up and down ekstrem hingga akhirnya mencapai kata "deal" dengan kanker. Butuh waktu yang tak singkat pula. Bisa kebayang ujian kesabaran yang begitu hebat? Sangat disarankan baca buku ini sehingga bisa terkoneksi bagaimana perjuangan mereka.

Berdamai di sini bukan pasrah, melainkan mengupayakan supaya kanker nggak berulah membabi-buta lagi. Dalam hal ini dengan menjaga pola makan sehat, olahraga, hingga berupaya selalu berpikir dan memiliki emosi positif. Hal ini pula yang disuguhkan penulis dalam bukunya. Selain kisah penyintas kanker, juga ada teknik relaksasi hingga resep bikin jus dan smoothies.

Buku ini sangat inspiratif dan informatif. Apa yang saya lakukan setelah membaca buku ini? Saya mau mulai mengelola emosi setiap kali ada sesuatu yang mengusik hati dan pikiran. Saya bilang pada diri sendiri, daripada nanti jadi "bom waktu", lebih baik mengikhlaskan, menghadapi, dan cari solusi. Sebab, kebiasaan saya ketika ada yang tak sreg di hati, kerap saya pendam sendiri, bahkan "lari", tanpa solusi. Saya beranggapan, membiarkan berarti akan membuat masalah kelar sendiri. Faktanya, masalah yang sama bisa datang lagi dan lagi. Atau malah menghadapi tapi menekan perasaan sedalam-dalamnya yang justru bikin sesak sendiri.

Ya, saya harus belajar memperbaiki diri. Termasuk soal pola makan sehat yang dishare dalam buku ini. Misalnya para penyintas kanker harus menghindari makanan berpenyedap, berperasa, berpengawet, daging merah, ayam broiler, minuman kaleng, dsb. Saya mencoba menerapkannya, sedikit-sedikit. Termasuk pesan dari ayah dan ibu saya. Sekarang, kalau makan di kantor sudah ayam (saya hampir yakin itu ayam broiler), berarti makan berikutnya ganti lauk. Seringnya sekarang larinya ke lele karena gampang didapat dan murah. Apalagi anak kost yang sering makan penyetan kan ya? Hahaha.

Kemudian, saya sedang mulai mengurangi camilan gorengan dan snack-snack manis di minimarket. Berupaya pindah ke buah-buahan. Soalnya mindset saya harga buah agak mahal ya ketimbang snack-snack itu. Apalagi kalau dikaitkan masa ketahanannya, awetan snack banget. Hahaha. Tapi sebenarnya kalau saya pribadi menghitung-hitung kembali, harganya juga beda 11-12. Misalnya Rp 20 ribuan beli snack manis 2-3 pak, dibelikan buah pir 2 biji plus jeruk 2-3 biji gitu, hampir sama harganya. Mindset memang harus diubah!!!

Sekarang niat mengubah pola makan sehat (olahraganya masih kudu dipaksa hehehe), mulai bergeser dari ngurusin badan ke lebih demi keberlangsungan fungsi normal dan fit organ-organ tubuh saya. Kalau meminjam istilah Jerinx "Superman Is Dead", dia mau nakal sampai tua, makanya dia menyeimbangkan gaya hidup destruktifnya (yang notabene mabuk dll) dengan ngegym gitu2. Ini berdasarkan wawancaranya dengan Soleh Solihun, komedian Tanah Air. Iya, saya pengen semakin tua semakin sehat dan cantik. Hahaha. Kan semakin ke sini semakin marak tuh, makin tua makin cakep dan tetap sehat.

Terima kasih untuk Mbak Rahmi yang telah menulis buku ini dan Mbak Putri yang memberi saya keberuntungan :). Semoga para penyintas kanker selalu sehat dan selalu menginspirasi. Dan, kita semua HARUS semakin bersemangat menjaga pikiran, hati, dan fisik tetap sehat.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melewatkan Maladewa & Vietnam, berjodoh dengan Singapore Grand Prix

Jodoh itu tak pernah ada yang tahu. Demikian omongan yang sering kita dengar. Kadang bisa ditebak, bisa jadi jauh dari angan-angan, bisa jadi lebih dari yang kita harapkan.  Kalau boleh saya sebut, perjalanan saya pertama kali ke Singapura nonton gelaran balap Formula One (F1) atau Singapore Grand Prix pada 14-17 September lalu, adalah jodoh yang lebih dari harapan. Saya pernah berharap ke luar negeri, seperti teman-teman lain yang telah lebih dulu liputan ke negara orang. Bahkan resolusi jalan-jalan atau liputan ke luar negeri saya tulis di jurnal sebagai resolusi 2018. Meski dari awal bekerja di media saya bernaung belum berkesempatan, itu artinya saya harus bersabar menunggu giliran  dan rezeki bikin paspor, saya puas akhirnya terbang ke negara orang. Sebelumnya, saya mendapat peluang tawaran pergi ke Maladewa, open trip gitu, tapi karena saya belum punya paspor, ya lepas dari genggaman. Lagipula saya juga nggak bisa membayangkan kalau saya mendadak dicemplung...

Detox 3 hari 2 malam di villa Rp600 ribu, Salima Cottage Tawangmangu

Bismillahirrahmanirrahim.  Tulisan ini sebagai dokumentasi liburan keluarga di Tawangmangu, 11-13 April 2025 lalu. Libur Lebaran 2025 alhamdulillah bisa kumpul berlima setelah sehari-harinya pisah-pisah kota. Kami pilih tanggal segitu karena bersamaan orang-orang sudah mulai usai libur Lebaran. Dengan begitu, jalur ke Tawangmangu lancar damai. Harga sewa penginapan sudah kembali normal.  Ternyata memang benar, perjalanan kami dari Magetan ke Tawangmangu, alhamdulillah lancar, bebas macet, antre dll. Untuk pertama kalinya ke Tawangmangu, menginap di villa, aku pribadi takjub, sih. Duh, maaf sebelumnya kalau meremehkan Tawangmangu ada apa, sih? Temen-temen kantor bilang sih, enak udara sejuk, bisa makan molen-molen di pasarnya yang endul. Tapi pikiranku saat itu kayak, emang bagus ya? Emang sebagus kayak dataran tinggi di Bandung gitu, ya? Eh, ternyata emang bagus! Sisi mananya? View di villanya. Pun sebenarnya sepanjang perjalanan dari Magetan ke Tawangmangu yang melewati Saran...

Traveling ke Bandung Oktober 2024: Restu turun saat benar-benar siap

"Liburan kok milih ke barat sih, Mbak?" tanya driver ojek online yang mengantarku ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) Kamis, 10 Oktober 2024. Barat itu maksudnya ke Bandung. Iya, akhirnya aku bisa ke Bandung--lagiiii. :) "Liburan tuh ke timur, kayak Batu, Malang," imbuh pria tinggi besar itu. "Pak, saya dari timur, serasa biasa aja, hahaha," kelakarku.  Sebenarnya aku belum menjelajah daerah asalku, Jawa Timur. Rasa ingin itu belum ada. Pengennya eksplor Jateng, Jabar. Tapi ya, aku baru ke Solo, Semarang, Magelang untuk Jateng. Yang Jabar, ya masih Bandung. Entah, sejatuh cinta itu sama Bandung. :) Ada getar yang beda kalau bicara soal Bandung. Getar yang menggelenyar hangat di sudut hati terdalam. Jadi sendu tapi bukan sedih. Kerinduan yang entah datang begitu saja. Aku pertama kali ke Bandung sewaktu kuliah, masuk tahun kedua atau ketiga aku kuliah kalau nggak salah ingat. Saat itu ada PKL Psikologi Klinis ke Bandung. Naik bus dari Surabaya ke Bandung, rombonga...